Saturday, May 11, 2013

Salah jurusan

Bulan Februari tahun 2004, tercatat sebagai salah satu bulan bersejarah dalam kehidupan saya. Bulan dimana akhirnya saya bisa menyelesaikan kuliah S1 saya setelah melewati masa2 penuh perjuangan :p

Sempat kehilangan motivasi untuk kuliah, sempat menghilang dari bangku kuliah selama hampir satu bulan karena sakit, dan 'nyaris' turun angkatan karena banyak nya mata kuliah yang diulang. 

Dan di akhir perjalanan, 'terjebak' dengan dosen pembimbing yang tidak hafal nama saya, bahkan entah kenapa seperti yang menderita karena harus membimbing saya :))

Bulan Februari, sembilan tahun kemudian, 2013, kembali tercatat sebagai salah satu bulan bersejarah dalam hidup saya. Bulan dimana saya akhirnya juga bisa menyelesaikan kuliah S2 saya setelah melewati masa2 perjuangan. 

Selama kuliah S1, saya punya segudang amanah da'wah  yang cukup menyita waktu dan tenaga saya. Ketika kuliah S2, saya juga harus jungkir balik membagi waktu antara kuliah, kerja, keluarga dan juga dengan amanah da'wah lainnya. 

Tapi kuliah S2 sepertinya berbanding hampir 180 derajat dari kuliah S1. Selama S2, saya selalu exciting mengikuti setiap mata kuliah yang ada, sesulit apapun itu. Seletih apapun kondisi fisik saya, rasanya selalu ada motivasi lebih untuk berusaha mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan hasil yang optimal dan right on time. 

Ketika S1, saya merupakan bagian dari lulusan 'sisa-sisa' perjuangan karena hampir 75% dari teman-teman satu angkatan sudah lulus duluan. Ketika kuliah S2, saya justru merupakan orang pertama yang lulus dari 45 orang mahasiswa dalam satu angkatan. Menutup cerita perjuangan kuliah saya di institut cap gajah dengan selembar ijazah bertuliskan predikat Cum Laude. 

Aneh kan?

Kalau suami saya bilang, itu artinya waktu S1 saya salah jurusan :p

Thursday, April 18, 2013

wanita paling berpengaruh

Siang tadi sempat baca majalah Insinyur yang nganggur di meja depan. Tadinya sih iseng2 aja ternyata rame dan akhirnya dibaca sampe abis. Tema nya adalah tentang gender dan teknologi. Seiring dengan moment peringatan hari kartini, majalah itu mengangkat topik tentang kiprah wanita khususnya di bidang teknik dan komputer. Bidang keahlian yang katanya paling minim wanitanya.

Salah satu rubrik di majalah itu mengulas tentang 100 wanita paling berpengaruh di dunia versi majalah forbes. Dari seratus wanita tersebut dipilih 10 orang wanita yang berkiprah di bidang teknik dan komputer. Diantaranya ada Meg Whitman dari Hewlett Packard, kemudian ada COO nya facebook, ada juga pejabat-pejabat tinggi Yahoo, Google, Wikimedia, dan produsen gadget HTC yang semuanya wanita.

Membaca majalah itu jadi terbersit motivasi, bahwa someday saya juga ingin menjadi salah satu wanita yang paling berpengaruh. Mungkin ga sedunia sih... kayanya jauh amat kalau sedunia. Tapi setidaknya wanita yang berpengaruh baik untuk lingkungan sekitar. Kalau sekarang alhamdulillah sudah jadi wanita yang berpengaruh di keluarga (mempengaruhi suami maksudnya..he..he..). Someday semoga bisa menjadi wanita yang berpengaruh untuk wilayah yang sedikit lebih luas. Aamiin.. :)

Thursday, April 11, 2013

Every achievement has its own story..

Bisa kuliah S2 mungkin biasa-biasa saja untuk sebagian besar orang. Tapi untuk saya, mendapatkan kesempatan untuk kuliah S2 kemudian menyelesaikannya dalam waktu yang relatif singkat, dan dianugerahi predikat cumlaude itu harus melalui perjuangan yang luar biasa.

Perjuangan diawali dengan pernah diterima sebagai mahasiswa Magister SBM tahun 2006, mendapatkan beasiswa tapi hanya 50% dari tuition fee. Biaya kuliah saat itu adalah 45 juta, artinya saya harus mencari biaya tambahan untuk kuliah sekitar 23 jutaan.

Kewajiban sebagai penerima beasiswa adalah bekerja untuk SBM baik sebagai asisten kuliah maupun asisten riset selama kurang lebih 20 jam per minggu. Kalau dalam satu minggu ada 5 hari kerja, per hari saya harus bekerja kurang lebih 4 jam. Ditambah dengan kuliah, per hari kira-kira 4 jam kuliah. Artinya dalam satu hari penuh saya bekerja dan kuliah  di SBM.

Di sisi lain, saya masih terikat kerja di kantor. Selain itu saya juga masih harus memikirkan darimana mencari sisa uang untuk membayar kuliah saya. Dulu sama sekali tidak terbayang darimana bisa mendapatkan uang 23 juta dalam waktu satu tahun.

Akhirnya dengan berat hati , saya mengundurkan diri. Hanya 1 hari menyandang status sebagai mahasiswa magister SBM kemudian saya mengundurkan diri. Sambil beruraian air mata, meninggalkan gedung SBM dan sama sekali tidak terpikir kapan akan ada kesempatan lain untuk bisa kuliah S2.

Itu cerita tujuh tahun yang lalu... :D

Insya Allah disambung dengan cerita perjuangan selanjutnya..

Tuesday, April 09, 2013

Say No to Soc-med?

Akhir-akhir ini lagi males banget dengan yang namanya social media.

--> Facebook

Lama-lama isinya tinggal emak-emak kesepian dan tukang dagang semua. Baca - baca postingannya ga jauh dari hari ini anak saya begini, si kakak begini, si adek begitu. Atau kalau ngga gitu, postingan tukang dagang online semua. Mulai dari dagangan yang real a.ka baju, kerudung, de el el, sampe2 dagangan yang ga real ala jaringan mlm gitu.

Rasanya udah jarang banget menemukan tulisan-tulisan yang menginspirasi atau mencerahkan.. :'(

--> Path / Instagram

Jadi ajang orang pamer foto. Atau pengumuman kalau dia check in di sini, check in di situ..

--> Twitter

Yang ini masih aga mending lah. Walaupun musti pinter2 juga milih siapa yang mau di follow. Kalau ngga, wall kita bakalan penuh sama twit yang ga jelas atau alay2 gitu.

Tapi kalau kita nge follow orang-orang hebat, lumayan juga bisa menemukan tulisan-tulisan inspiratif. Walaupun musti rela nyari sambungannya. Berhubung jatah character di twitter itu dikit banget, jadi biasanya kalau orang mau nulis sesuatu, twitternya bersambung. Dan kita musti pinter2 nyari sambungan atau nyari urutannya. Kalau ngga, ya pusing sendiri :D

Jadi gitu deeehh... Tutup aja semua akun -akun soc-med nya gitu ya... :p

Monday, April 01, 2013

Pegawai a.k.a Tetangga "Baru"

Hari ini ada pegawai baru di kantor, seorang Ibu muda bagian akutansi. Ternyata oh ternyata.... kita bertetangga...

Tetangga beneran satu komplek. Saya tinggal di Blok B dan dia tinggal di Blok G. Dan asli saya ga familiar dengan wajah nya, begitu juga dia yang ga ngerasa pernah ngeliat saya.. hihihihi....

Yaah.. ma’lum lah.. dia ‘baru’ dua tahun tinggal di komplek itu, dan saya juga ‘baru’ lima tahun tinggal di situ...

Amazing bukaann.. :))

Thursday, March 21, 2013

surat untuk teteh

Ini adalah surat ‘perpisahan’ dari salah satu murid saya. Saya tuliskan di sini sebagai bentuk motivasi untuk diri sendiri, bahwa ada kenikmatan dalam lingkaran itu yang tidak bisa saya cari di tempat yang lain. Kenikmatan yang sulit untuk dilukiskan. Surat ini mungkin bisa memberikan ‘sedikit’ gambaran.
---------------------------------------------------------
Assalamu’alaikum teteh... :D

Teh, belum banyak yang saya tau tentang teteh. Yang saya tau teteh adalah seorang akhwat yang lembut, penyayang, sabar, santun, rapih, banyak pengetahuannya, sholehah, dan tegas dalam kelembutan ^__^

Rasanya.. masih baru-baru ini teteh jadi guru saya, sekarang udah harus berpisah lagi...

Rasanya.. masih ingin mengenal teteh..
Jarang hadir kurangi kesempatan saya untuk lebih mengenal teteh. Semoga kedepannya saya bisa jauh lebih mengenal teteh ya.. ^__^

Jazakillah teteh..
Selama ini uda mau sabar, mau berkorban untuk jadi guru kita. Guru saya. Meski banyak hal yang membuat teteh kesal, kecewa, atau bahkan terluka, tapi teteh tetap selalu jadi guru yang terbaik untuk kita.

Ukhibbuki fillah teteh...

---------------------------------------------------------
Subhanallah.. meleleh ga sih baca nya... :’(

Tuesday, March 19, 2013

Arti Sebuah Gelar

Pertanyaan yang menggelitik dalam pikiran saya saat ini, apa sebenarnya arti sebuah gelar? Apa agar setiap orang tahu bahwa kita telah mencapai suatu prestasi sehingga kita layak menyandang sebuah gelar? Apa untuk menghiasi daftar riwayat hidup kita bahwa kita pernah disemati gelar-gelar tertentu? Atau untuk menghiasi nama kita sehingga lebih enak didengar atau lebih keren terpampang? :D

Menurut saya sayang sekali kalau motivasi kita mencapai satu gelar itu adalah untuk mendapatkan penghormatan dari orang lain. Pengormatan itu memiliki tingkatan yang sangat relatif. Dalam sebuah keluarga dimana semua anak-anaknya menempuh jenjang pendidikan S3, gelar S1 mungkin bukan sesuatu yang istimewa. Untuk orang arab yang domisili nya relatif tidak jauh dari kota makah dan madinah, mungkin gelar ‘haji’ atau ‘hajjah’ sama sekali tidak istimewa. Untuk orang yang ‘mother language’ nya bahasa inggris, score TOEFL 620 pun tidak istimewa (mungkin... :D). Jadi sia-sialah jerih payah kita dalam mendapatkan sebuah gelar kemudian ternyata gelar itu tidak terlalu istimewa di mata orang lain.

Kalau gelar itu dicapai dalam rangka menghiasi daftar riwayat hidup kita, tentu lebih sayang lagi, karena manfaat dari daftar riwayat hidup lebih terbatas lagi. CV yang dihiasi berlembar-lembar prestasi dan gelar yang kita raih tidak menjamin kita hidup lebih bahagia dari orang lain.

Lebih sedih lagi kalau gelar itu dicapai dengan susah payah hanya sekedar untuk menghiasi nama kita. Karena tidak semua prestasi yang kita raih itu diiringi dengan gelar atau embel-embel yang menghiasi nama kita. Mungkin gelar ada keren seperti Prof. Dr. Nama saya, M.Sc., MS., MES, atau lebih keren lagi Prof. Dr(Hc)., H., Nama Saya, bla..bla..bla... Atau gelar non akademis misalnya Raden Bagus. Nama Saya. Atau Al Hafiz. Nama Saya, bla..bla..bla.. Tapi kan tidak ada gelar untuk orang yang paling rajin bangun pagi misalnya. Atau gelar untuk orang yang paling rajin membantu teman nya misalnya. Kalaupun mau, mungkin menjadi kurang lazim, contohnya Nama Saya Sang Ahli Bangun Pagi :D

Saya pernah  baca tentang kakek berusia 106 tahun yang akhirnya mendapatkan gelar diploma (gelar untuk lulusan SMA) dari Beverly High School, Amerika Serikat. Saya yakin kakek itu sekolah bukan untuk mendapatkan gelar. Untuk saya, gelar tentu bukan sekedar untuk kehormatan atau untuk menghiasi nama. Untuk saya, meraih suatu prestasi tertentu, baik itu bergelar maupun tidak, lebih kepada bentuk syukur saya kepada Allah karena telah diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi saya di bidang tertentu. Gelar juga lebih kepada kepuasan pribadi, untuk menunjukan kepada diri sendiri, ternyata saya bisa :)