Daisypath Anniversary tickers

Tuesday, May 17, 2005

A Huge Decision

Menikah memang bukan perkara mudah. Karena dia adalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Dan dia juga merupakan gerbang menuju dimensi yang sama sekali baru bagi seorang manusia.

Walaupun begitu Allah sebenarnya telah mempersiapkan begitu banyak pintu kemudahan untuk perkara ini. Mengawali segala sesuatunya dengan awal yang baik dan di ridhai oleh Allah adalah salah satu syarat dibukakannya pintu kemudahan itu. Dimulai dengan niat yang ikhlas dan orientasi yang benar. Karena keikhlasan hati dan tujuan yang benar adalah kunci kebahagiaan hidup berumah tangga.

Ikhlaskan niat, bahwa pernikahan adalah salah satu manifestasi keta'atan kita kepada Allah. Dan oleh karena itu, pernikahan yang akan diwujudkan adalah pernikahan di jalan Allah, pernikahan atas dasar komitmen terhadap da'wah, dan pernikahannya para pejuang. Bukan sekedar menikmati romantisme hidup yang dibingkai oleh cinta yang semu.

Luruskan orientasi bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita jika kita terus membujuk-Nya dengan ikhtiar dan do'a - do'a yang kita panjatkan. Luruskan orientasi kita bahwa jika kita berusaha menyempurnakan keimanan kita maka Allah akan mempertemukan kita dengan orang yang kualitas keimanannya pun sebanding dengan kita. Bahkan sebagai tambahannya, Allah sertakan pula ketenangan hati, kelapangan serta kemantapan dalam menerima pemberian terbaik dari Nya.

Syarat lain menuju terbukanya pintu kemudahan dalam pernikahan adalah tawakkal. jalani saja segala sesuatunya seperti yang Allah minta. Nabi mUsa pun tidak pernah bertanya ketika beliau diminta memukulkan tongkatnya ke laut merah. Sampai kemudian Allah menurunkan rahmat dan pertolongan-Nya.

Bagi yang belum menikah, jalani saja ikhtiar kita dalam mempersiapkan diri untuk menerima amanah besar itu. Biar Allah yang tentukan kapan saat yang tepat untuk kita menggenapkan separuh dien dan siapa orang yang nantinya akan kita jadikan imam dalam hal keta'atan kepada Allah, partner dalam da'wah menegakan kalimatullah serta sahabat untuk berbagi dan memperoleh ketenangan hati.

Bagi yang sudah / akan menikah dalam waktu dekat, jalani saja peran baru kita sebagai seorang istri dan seorang ibu seperti yang Allah mau. Biar Allah yang mengumpulkan kita dengan semua orang yang kita cintai dalam sebuah rumah yang telah kita bangun bersama pasangan kita di Jannah-Nya.

Wallahua'alam bish shawab

Insya Allah tidak bermaksud menggurui. Tulisan ini saya ambil dari berbagai sumber. Semoga bisa membantu memberikan pencerahan bagi semua yang sedang dalam proses mengambil keputusan besar itu.

Ujian Kesabaran

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. [ Ali Imran :142]

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [An - Nahl:96]


Tidak ada satupun orang di dunia ini yang tidak pernah merasakan masa – masa sendu dalam hidupnya. Masa – masa ketika Allah menguji kesabarannya dengan kesempitan, kesedihan dan kesusahan, terlepas dari seperti apapun bentuknya.

Nikmati, nikmati saja semua sedih dan perih luka yang kita rasakan. Karena dibalik itu ada kecintaan yang tiada tara dari Dzat yang Maha Kuasa. Syukuri, syukuri saja semua kesempitan dan kesusahan yang harus kita lalui, karena itu adalah pemberian terbaik dari Allah bagi orang – orang yang beriman. Biarkan Allah yang sembuhkan luka itu. Biarkan Allah yang bukakan jalan keluar, dan limpahkan kemudahan dalam bentuk yang lain sebagai ganti dari semua ini.

Menangis, menangislah. Karena itu sangat manusiawi. Menangis lah karena kita memang begitu lemah di hadapan- Nya. Menangis lah karena kita sama sekali tidak berdaya tanpa kekuatan dari – Nya. Menangislah sebagai bentuk ketundukan kita atas semua yang telah ditentukan Allah untuk kita. Nikmati saja belaian Allah dalam setiap tetes air mata yang terjatuh karena ketawakkalan kita kepada-Nya. Bayangkan saja senyuman di wajah mulia Rasullullah karena keistiqomahan kita meniti jalan kesabarannya.

Tegakakan kepala dan tampilkan keoptimisan. Gambaran dari sebuah keyakinan bahwa Allah tidak akan membebani seseorang diluar kemampuannya. Dan bahwa dalam setiap kesulitan ada kemudahan. Jangan pernah merasa kecil selama kita berpegang pada simpul Allah yang tidak akan pernah putus.

Setelah semua itu kita lalui, maka tersenyum lah. Tersenyumlah karena kemenangan kita melawan kelemahan diri. Tersenyumlah menyongsong janji Allah bagi orang – orang yang bersabar. Dan tersenyumlah karena balasan yang jauh lebih baik yang telah Allah anugrahkan sebagai ganti semua kesempitan, kesedihan dan kesusahan yang telah kita lalui dalam bingkai kecintaan kepada-Nya.


For a very special friend of mine : jazakillah khairan katsira, jazakillah khairan jaza. Biarlah Allah yang membalas senyuman penuh makna peredam duka.

Thursday, May 12, 2005

bosan

Ibu saya memiliki satu kebiasaan yang seringkali membuat beliau berbeda pendapat dengan kami, anak – anaknya, yaitu kebiasaan beliau berada di luar rumah. Entah itu sekedar mengobrol dengan ibu – ibu di warung sampai berjam – jam, atau main ke rumah saudara – saudara, atau berkunjung ke rumah teman – temannya. Dan aneh nya, nenek saya, walaupun tidak separah ibu saya, juga memiliki kebiasaan yang hampir sama. Yaitu melakukan road show setiap minggu dari satu arisan ke arisan berikutnya. Mulai dari arisan keluarga, arisan RT, arisan kelurahan, dan sejenisnya. Dan alasan mereka sama, karena bosan berada di rumah.

Melihat kondisi ini membuat saya tertarik untuk mengamati fenomena kebosanan yang rentan sekali dialami oleh para ibu, terutama ibu – ibu yang berprofesi sebagai “full time mom”. Mereka relatif mudah dihinggapi rasa jenuh dan bosan terutama karena mereka seringkali terjebak dalam rutinitas aktivitas domestik. Mulai dari bangun pagi, menyiapkan sarapan, menyiapkan perlengkapan anak – anak yang mau berangkat sekolah atau suami yang mau berangkat bekerja, kemudian menjelang siang, membereskan rumah, pergi ke pasar, menyiapkan makan siang, mencuci, menyetrika, dan menjelang malam menyiapkan makan malam, tidur dan bangun keesokan paginya untuk kembali menjalani rutinitas yang hampir sama. Dan untuk “melarikan diri” dari jebakan rutinitas ini memang biasanya para ibu memilih untuk keluar rumah, terlepas dari apakah aktivitas di luar rumah itu bermanfaat atau tidak, yang penting mereka menemukan suasana baru.

Padahal sebenarnya ada sebuah aktivitas yang dapat dilakukan oleh para ibu baik di luar rumah maupun di dalam rumah, dan aktivitas ini akan mendatangkan pendapatan yang luar biasa.

Berda’wah dengan bayaran Surga dari Allah …..

tiDaK SeKedaR KaTA

"Baiklah ikhwah fillah, demikian kita putuskan bahwa kita akan mulai menginisiasi gagasan ini. Walaupun tentu saja ada beberapa hal yang menjadi consideran kita yang perlu kita tinjau kembali untuk mengelaborasi gagasan ini di kemudian hari."

..........................................

Butuh waktu beberapa menit sampai akhirnya saya memahami kalimat - kalimat di atas. Kenapa sebuah pesan yang sebenarnya sederhana, menjadi demikian kompleks akibat pemilihan kata dan kemasan bahasa yang begitu sulit ? Setidaknya sulit untuk saya, karena memang tidak cukup terbiasa dengan beberapa kata di atas.

Teringat Rasulullah yang sangat memperhatikan masalah bahasa karena kata - kata adalah senjata nya seorang da'i. Apapun muatan yang ingin disampaikan oleh seorang juru da'wah, alat utama nya adalah kata - kata. Bagaimanapun seorang da'i berusaha menggambarkan Islam kepada objek da'wah nya, dia tidak akan pernah mampu melepaskan diri dari sebuah alat yang bernama "bahasa". Dan ini tentu saja sudah jauh lebih dulu dipraktekan oleh Qudwah kita yang mulia, Rasulullah SAW. Salah satu contoh adalah ketika beliau berhadapan dengan Mu'adz bin Jabal dan salah seorang dari suku arab badui. Gaya berbicara, bahasa dan pemilihan kata yang Rasulullah gunakan ketika beliau berbicara dengan Mu'adz bin jabal berbeda dengan ketika beliau berbicara dengan seorang arab badui.

Pemilihan bahasa yang tidak tepat bukan saja dapat mengurangi pesan yang ingin disampaikan tapi juga dapat menjadi bumerang bagi da'wah itu sendiri. Berbicara dengan seseorang yang terpelajar dan memiliki wawasan keilmuan yang luas memang akan sangat berbeda dengan berbicara kepada kalangan masyarakat bawah. Sayangnya terkadang seorang da'i tidak pandai menempatkan diri dalam konteks pemilihan bahasa ini. Ini mudah sekali terbaca dari kegagapan para aktivis yang terbiasa berda'wah di lingkungan kampus yang kemudian mereka di tuntut untuk terjun ke masyarakat luas. Bahasa yang digunakan para da'i jebolan kampus ini terkadang justru menciptakan jarak tersendiri antara dirinya dengan objek da'wah nya di masyarakat luas. Karena memang masyarakat kita didominasi oleh orang - orang yang tidak "well educated", tidak memiliki latar belakang pendididikan yang tinggi. Sehingga mereka lebih memahami pesan - pesan yang disampaikan dengan bahasa yang sederhana.

Monday, May 02, 2005

-- klasik --

Pepatah mengatakan bahwa keledai saja tidak akan terperosok ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Lalu mengapa manusia seringkali membuat kesalahan yang sama ? Kesalahan yang sama yang pernah dilakukan beberapa waktu sebelumnya. Atau kesalahan yang sama yang pernah dilakukan oleh generasi sebelumnya.

Hari ini kita mengenal sebuah definisi “klasik” untuk sebuah masalah Begitu seringnya sebuah kesalahan atau suatu permasalahan yang sama dialami oleh orang – orang yang bergerak di sebuah wilayah yang sama pula. Dalam konteks da’wah pun kita mengenal istilah “masalah klasik” ini. Masalah yang rasanya selalu hadir dimanapun fase da’wah ini berada. Masalah yang sama yang selalu dialami oleh orang – orang yang bergerak di medan da’wah baik hari ini, kemarin, bahkan hari – hari yang akan datang jika saja orang – orang ini tidak segera menemukan solusinya.

Apakah kita terlalu angkuh untuk menoleh kebelakang dan mengambil pelajaran ? Ataukah mungkin mata hati kita dan juga pemahaman kita terlalu sempit untuk mengambil pelajaran dari orang – orang terdahulu yang sudah Allah pampangkan di dalam kitab suci-Nya? Mungkin juga sebenarnya penyebab hal ini sangat sederhana. Tidak adanya komunikasi atau interaksi baik dengan diri kita sendiri maupun dengan generasi terdahulu sehingga kita bisa mengambil pelajaran dari nya.

Jarang sekali kita berkomunikasi dengan diri kita, berkontemplasi, menghisab diri dan meminta fatwa pada hati kita sendiri. Sehingga, baik disadari maupun tidak, kita sering kali mengulangi kesalahan – kesalahan yang pernah kita lakukan dan kita terjebak pada masalah klasik. Padahal jika komunikasi itu terpelihara, maka hati kita pasti akan mencegah kita dari terperosok ke dalam lubang yang sama melalui fatwanya. Kontemplasi akan menuntun pikiran kita untuk menghindari kesalahan yang sama. Dan hisab diri akan membuat keimanan kita menuntun kita untuk selalu berbuat lebih baik hari ini dibandingkan dengan kemarin.

Kita juga kurang memelihara komunikasi kita dengan generasi terdahulu. Memprioritaskan energi dan pikiran kita untuk mempelajari perjalanan panjang yang telah dilalui oleh Para Nabi dan Salafus shalih. Dan meluangkan waktu kita untuk bertanya, baik secara langsung maupun tidak, kepada orang – orang yang sudah terlebih dahulu mengayunkan langkah nya di jalan ini.

Kalau saja ini semua dapat dilaksanakan dengan optimal, tentulah langkah – langkah kaki kita akan mengayun lebih cepat di atas jalan da’wah dan tidak melulu disibukan dengan usaha untuk mengeluarkan diri dari lubang yang sama yang pernah membuat orang – orang sebelum kita terperosok.

Wallahua’lam bish shawab

Wednesday, April 27, 2005

d - e - w - a - s - a

Kedewasaan seseorang adalah sesuatu yang ukuran atau parameternya sebenarnya sangat relatif. Sebagian dari kita menilai kedewasaan seseorang dari usianya. Maka tak heran jika seorang anak yang menginjak usia 17 tahun dianggap sudah “dewasa” dan diberi kebebasan ataupun diberi tanggung jawab yang tidak dimilikinya ketika ia belum genap berusia 17 tahun. Tapi sebagian besar mengukur kedewasaan seseorang dari pola pikirnya, sikapnya dan juga kecerdasan emosi nya. Orang yang berpikir panjang dan selalu berhati – hati dalam mengambil sikap dianggap lebih dewasa dari orang yang terbiasa untuk reaksioner atau kurang berpikir panjang. Orang yang melihat segala permasalahan dari sudut pandang yang proporsional dan mengambil hikmah dari semua kejadian yang dialaminya dianggap lebih dewasa dari orang yang “narrow minded” dan sempit hati. Orang – orang yang mampu mengontrol emosi dianggap lebih dewasa dari orang – orang yang cenderung mengekspresikan kemarahan, kesedihan, like and dislike serta emosi lainnya secara meluap – luap. Lalu bagaimanakah agar kita menjadi orang – orang yang “dewasa” ?

Orang bilang, bertambah usia adalah sebuah kepastian, tapi menjadi dewasa dan bijaksana adalah sebuah pilihan. Sesungguhnya proses pembinaan Islam yang kita ikuti secara kontinu adalah merupakan sebuah proses pendewasaan diri kita. Ini dapat dilihat dari semua konsep keislaman yang diajarkan kepada kita. Semenjak awal kita belajar Islam, kita dibina untuk selalu berpikir panjang, untuk selalu memikirkan “masa depan”. Bahwa kita boleh melakukan apapun asal kita mampu menghadapi pertanggungjawaban dari semua yang kita lakukan. Bahwa kita boleh melanggar “aturan” tapi kita juga harus mau menanggung konsekuensinya. Selalu ada reward and punisment untuk semua yang kita lakukan.

Dan sejak awal kita juga dibina untuk tidak hanya memikirkan diri kita sendiri. Ini yang menurut saya juga merupakan salah satu parameter kedewasaan seseorang. Sejak awal kita mengenal Islam, kita telah dibina untuk tidak hanya berbahagia dengan keislman kita tapi juga memikirkan keislaman orang lain. Kita dibina bahwa apapun yang dilakukan oleh orang lain, selalu ada kewajiban mengingatkan untuk hal – hal yang menyimpang dan kewajiban untuk membantu serta mendukung untuk hal – hal yang bersifat kebaikan. Bahwa setiap beban yang ditanggung oleh orang lain selalu ada porsi kita untuk meringankannya. Bahkan kita diajarkan untuk merasa “satu tubuh” dengan ummat Islam yang lain. Selalu seperti itu.

Dan jika kita berbicara mengenai kemampuan mengendalikan emosi sebagai ukuran kedewasaan seseorang, Islam sudah jauh lebih dulu mengkonsepkannya. Islam mengajarkan tentang bagaimana berlepas dari penilaian dan penghargaan orang lain, sesuatu yang sering membuat kita kecewa karena tidak pernah ada batas pencapaiannnya. Ketika Islam mengajarkan bagaimana berbahagia dan tertawa, maka pada saat yang sama Islam mengajarkan bagaimana kita bersedih dan menangis. Islam menganjurkan kita untuk marah tapi juga lebih memuliakan orang yang mampu mengendalikan amarahnya. Islam tidak hanya menganjurkan kita untuk bersikap keras dan tegas atau bersikap lemah lembut tapi juga memberikan koridor untuk mengaplikasikannya. Selalu seperti itu.

Oleh karena itu sangat logis untuk mengaitkan kedewasaan seseorang dengan pemahaman keislamannya. Semakin baik pemahaman Islam nya maka semakin dewasa pula sikap dan pola pikir seseorang. Itulah mengapa dua orang sahabat “cilik” diizinkan Rasulullah untuk pergi berperang pada usia 15 tahun. Itulah mengapa para sahabat yang lain pun mengukir prestasi yang luar biasa pada usia – usia yang masih sangat muda. Karena usia bukan ukurannya tapi pemahaman keislaman seseorang lah yang akan menunjukan apakah dia dewasa atau tidak.


Specially for Rela :
Mari kita sama – sama beranjak dewasa :)

Tuesday, April 19, 2005

Me and My Shoutbox

Akhirnya, setelah dikomporin dengan semangatnya oleh teman - teman, saya mencantumkan shoutbox di blog ini. Semoga ini menjadi awal bagi saya untuk mulai membuka blog ini, atau lebih tepatnya lagi membuka diri terhadap dunia luar.

Bagi teman - teman yang ingin menorehkan pesan - kesan, saran atau kritikan, semoga menjadi lebih mudah dengan adanya shoutbox ini.

Silahkan...silahkan...