Daisypath Anniversary tickers

Sunday, July 13, 2008

Mengapa 13 Dianggap Angka Sial?

Di seantero dunia terdapat bermacam-macam kepercayaan, mitos, dan legenda, yang tidak terhitung banyaknya. Bagi kaum rasionalis, kepercayaan-kepercayaan orang-orang tua ini seharusnya ikut mati sejalan dengan modernisasi yang merambah seluruh sisi kehidupan manusia. Namun demikiankah yang terjadi? Ternyata tidak.

Di dalam tatanan masyarakat modern, kepercayaan-kepercayaan tahayul ini ternyata tetap eksis dan bahkan berkembang dan merasuk ke dalam banyak segi kehidupan masyarakatnya. Kepercayaan-kepercayaan ini bahkan ikut mewarnai arsitektural kota dan juga gedung-gedung pencakar langit (Triskaidekaphobia/red).

Sebagai contoh kecil, di berbagai gedung tinggi di China, tidak ada yang namanya lantai 13 dan 14. Menurut kepercayaan mereka, kedua angka tersebut tidak membawa hoki.

Di Barat, angka 13 juga dianggap angka sial. Demikian pula di berbagai belahan dunia lainnya. Kalau kita perhatikan nomor-nomor di dalam lift gedung-gedung tinggi dunia, Anda tidak akan jumpai lantai 13. Biasanya, setelah angka 12 maka langsung ‘loncat’ ke angka 14. Atau dari angka 12 maka 12a dulu baru 14. Fenomena ini terdapat di banyak negara dunia, termasuk Indonesia.

Mengapa angka 13 dianggap angka yang membawa kekurang-beruntungan? Sebenarnya, kepecayaan tahayul dan aneka mitos yang ada berasal dari pengetahuan kuno bernama Kabbalah. Kabalah merupakan sebuah ajaran mistis kuno, yang telah dirapalkan oleh Dewan Penyihir tertinggi rezim Fir’aun yang kemudian diteruskan oleh para penyihir, pesulap, peramal, paranormal, dan sebagainya—terlebih oleh kaum Zionis-Yahudi yang kemudian mengangkatnya menjadi satu gerakan politis—dan sekarang ini, ajaran Kabbalah telah menjadi tren baru di kalangan selebritis dunia.

Bangsa Yahudi sejak dahulu merupakan kaum yang secara ketat memelihara Kabbalah. Di Marseilles, Perancis Selatan, bangsa Yahudi ini membukukan ajaran Kabbalah yang sebelumnya hanya diturunkan lewat lisan dan secara sembunyi-sembunyi. Mereka juga dikenal sebagai kaum yang gemar mengutak-atik angka-angka (numerologi), sehingga mereka dikenal pula sebagai sebagai kaum Geometrian.

Menurut mereka, angka 13 merupakan salah satu angka suci yang mengandung berbagai daya magis dan sisi religius, bersama-sama dengan angka 11 dan 666. Sebab itu, dalam berbagai simbol terkait Kabbalisme, mereka selalu menyusupkan unsur angka 13 ke dalamnya. Kartu Tarot misalnya, itu jumlahnya 13. Juga Kartu Remi, jumlahnya 13 (As, 2-9, Jack, Queen, King).

Penyisipan simbol angka 13 terbesar sepanjang sejarah manusia dilakukan kaum ini ke dalam lambang negara Amerika Serikat. The Seal of United States of America yang terdiri dari dua sisi (Burung Elang dan Piramida Illuminati) sarat dengan angka 13. Inilah buktinya:

-13 bintang di atas kepala Elang membentuk Bintang David.

-13 garis di perisai atau tameng burung.

-13 daun zaitun di kaki kanan burung.

-13 butir zaitun yang tersembul di sela-sela daun zaitun.

-13 anak panah.

-13 bulu di ujung anak panah.

-13 huruf yang membentuk kalimat ‘Annuit Coeptis’

-13 huruf yang membentuk kalimat ‘E Pluribus Unum’

-13 lapisan batu yang membentuk piramida.

-13 X 9 titik yang mengitari Bintang David di atas kepala Elang.

Selain menyisipkan angka 13 ke dalam lambang negara, logo-logo perusahaan besar Amerika Serikat juga demikian seperti logo McDonalds, Arbyss, Startrek.Com, Westel, dan sebagainya. Angka 13 bisa dilihat jika logo-logo ini diputar secara vertikal. Demikian pula, markas besar Micosoft disebut sebagai The Double Thirteen atau Double-13, sesuai dengan logo Microsoft yang dibuat menyerupai sebuah jendela (Windows), padahal sesungguhnya itu merupakan angka 1313.

Uniknya, walau angka 13 bertebaran dalam berbagai rupa, bangsa Amerika rupa-rupanya juga menganggap angka 13 sebagai angka yang harus dihindari. Bangunan-bangunan tinggi di Amerika jarang yang menggunakan angka 13 sebagai angka lantainya. Bahkan dalam kandang-kandang kuda pacuan demikian pula adanya, dari kandang bernomor 12, lalu 12a, langsung ke nomor 14. Tidak ada angka 13.

Kaum Kabbalis sangat mengagungkan angka 13, selain tentu saja angka-angka lainnya seperti angka 11 dan 666. Angka ini dipakai dalam berbagai ritual setan mereka. Bahkan simbol Baphomet atau Kepala Kambing Mendez (Mendez Goat) pun dihiasi simbol 13. Itulah sebabnya angka 13 dianggap sebagai angka sial karena menjadi bagian utama dari ritual setan.

Source: www.swaramuslim.com

Thursday, July 03, 2008

ramadhan menjelang

اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا شَهْرَ رَمَضَانَ، واَعِنَّا عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَحِفْظِ اللِّسَانِ وَغَضِّ الْبَصَرِ، وَلاَ تَجْعَلْ حَظَّنَا مِنْهُ الْجُوعَ وَالْعَطَش

Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan. Bantulah kami untuk melaksanakan puasa, melakukan shalat malam, menjaga lisan dan memelihara pandangan; dan jangan jadikan puasa kami hanya sekedar lapar dan dahaga.

----------- siap - siap jelang ramadhan.. -----------

Monday, June 30, 2008

5 Bekal Istri Aktivis Da'wah

Diambil dari catetan lama. Tulisan ini ditulis oleh Dra. Anis Byarwati, M.Si di web dakwatuna. Semoga bisa menjadi pengingat, terutama untuk saya sendiri.

--------------------------------------------------------------------

Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur. Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing.

Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:

1. Bekalan Yang Bersifat Pemahaman (fikrah).

Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!

2. Bekalan Yang Bersifat Ruhiyah.

Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita.

3. Bekalan Yang bersifat Ma’nawiyah (mentalitas).

Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu) dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!

4. Bekalan Yang bersifat Aqliyah (intelektualitas).

Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!

5. Bekalan Yang Bersifat Jasadiyah (fisik).

Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’.

Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah?

Thursday, June 26, 2008

rumah Allah

email dari si Bapa:

"selvi, saya mau umroh nih tanggal 11 sampai 23 Juli. Tolong yah, laporan 2007-2008 difinalkan, panduan untuk Riset 2009 juga didraft dulu nanti saya koreksi, tolong.. , trus tolong... , tolong juga... "

Hu..hu...hu..Bos pergi umroh, jadi saya deh ketiban kerjaan segunung.

Tapi bukan itu sih sebenernya yang jadi masalah, yang jadi masalah adalah bliau mau pergi umroh.....aaahh.. mau dooongg.. ikuutt (emang siapa gue, anak bukan, sodara bukan )

Selalu seperti itu, kalau denger cerita - cerita orang pergi umroh atau haji. apalagi kalau yang masih muda - muda tapi udah punya kesempatan untuk mengunjungi rumah Allah.. wah subhanallah.. ngiri...

Kapan yaah.. bisa ke sana...

Someday.. insya Allah

Soon.. I hope.. insya Allah.. amiin..

Sebelum usia 30 .. insya Allah.. amiin...amiin.. (yang ini "amiin" nya musti aga kenceng, berhubung sebentar lagi udah mo kepala 3 )

Wednesday, June 25, 2008

life is a choice

Setelah kurang lebih 4 tahun saya mengenal beliau, untuk pertama kali nya beliau bercerita, mengapa di usia yang ke 41 tahun ini beliau masih hidup menyendiri.

-------------------------------------------------------------------------------------------

Mba ini yah pi, sebenernya udah hampir nikah dari sejak usia 22 tahun. Berarti lebih muda dari waktu upi nikah loh. Dulu mba pernah punya pacar, kami pacaran hampir 4 tahun, dan sudah tunangan hanya tinggal menunggu hari pernikahan saja. Dia sudah sangat dekat dengan keluargaku. Termasuk dekat dengan sepupu ku yang tinggal bersama kami di rumah orang tua ku. Sebenernya dekat nya calon suami ku dengan sepupuku, menurut banyak orang, kelewat dekat. Tapi aku ga pernah curiga pada mereka berdua.

Sampai ketika beberapa minggu sebelum pernikahan ku, sepupuku mengaku bahwa dia sedang hamil. Dan ayah dari bayi yang dikandungnya adalah calon suamiku sendiri. Kami sekeluarga seperti di samber geledek. Ayahku sakit keras karena memikirkan masalah ini, bahkan akhirnya beliau meninggal.

Aku sendiri hampir gila karena kondisi ini. Sakit, sedih, marah, malu, semua bercampur jadi satu. Ibu ku lah yang akhirnya mengingatkan aku. Sampai aku bisa kembali berusaha menata diri sendiri.

Sejak itu, rasanya hidupku jadi berubah total. Aku pernah beberapa kali pacaran, tapi kejadian itu meninggalkan trauma yang sangat dalam buat aku. Selalu ada perasaan takut untuk bisa menerima seorang laki - laki dalam kehidupanku.

Buatku, laki - laki itu seperti lautan. Dari jauh terlihat sangat indah, sangat menyenangkan. Tapi semakin kita dekat, semakin takut kita dibuatnya. Karena semakin dekat semakin terasa gelombangnya. Airnya yang tenang, menandakan ada sesuatu yang sangat dalam yang disembunyikan.

Itu lah mengapa, sampai usiaku yang sudah diatas 40 ini, aku masih lebih suka sendiri. Terkadang aku merasa bahwa aku bisa berdiri sendiri, tanpa laki - laki. Kalau aku melihat atau mendengar suami istri yang kurang akur atau bahkan bercerai, aku merasa bersyukur karena aku tidak punya suami. Walaupun kadang aku juga merasa iri dan sedih akan nasibku sendiri kalau melihat pasangan suami istri yang selalu terlihat mesra.

-------------------------------------------------------------------------------------------

Life is a choice, although I must say that's not the right choice

Thursday, June 19, 2008

upi mah enak...

"Upi mah enak yah.. orang tua nya bisa dibilang cukup berada"

"Upi mah enak yah.. bisa kuliah, di ITB lagi, trus abis kuliah langsung dapet kerja juga"

"Upi mah enak yah.. suami - istri kerja, penghasilannya juga lumayan"

"Upi mah enak yah.. belum punya anak, ga ada beban, masih bisa bulan madu aja berduaan"

Subhanallah, emang bener kata pepatah, rumput tetangga selalu tampak lebih hijau. Banyak komentar teman - teman yang mengatakan bahwa saya adalah orang yang "beruntung". Kalau saja mereka tahu, apa yang harus saya lalui, mungkin mereka juga bisa lebih bersyukur dengan keadaan mereka sendiri.

Setiap orang punya masalahnya sendiri. Tidak ada orang yang hidupnya selalu lebih enak dari orang lain. Karena dia pasti punya kesulitannya sendiri. Begitu juga sebaliknya, tidak ada orang yang hidupnya hanya kesulitan dan kesulitan. Allah tidak akan dzhalim, tidak mungkin seseorang selalu ditimpakan kesulitan tanpa Allah kasih "hiburan" untuk nya.

Tidak perlu selalu melihat ke bawah, karena bisa jadi itu membuat kita menjadi orang yang sombong atau orang yang cepat puas sehingga sulit untuk maju. Tapi selalu melihat ke atas pun akan membuat kita lelah dan sulit untuk bersyukur.

Pake Jilbab Malah Dilarang

Dikirim dari temen.... :D

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Ada seorang teman saya, suatu hari terpanggil untuk memakai jilbab. Karena hatinya sudah tetap, dia pun pergilah ke toko muslim untuk membeli jilbab. Setelah membeli beberapa pakaian muslim lengkap bersama jilbab dengan berbagai model (maklum teman saya itu stylish sekali), dia pun pulang ke rumah dengan hati suka cita.

Sesampainya di rumah, dengan bangga dia mengenakan jilbabnya. Ketika dia ke luar dari kamarnya, bapak dan ibunya langsung menjerit. Mereka murka bukan main dan meminta agar anaknya segera melepaskan jilbabnya. Anak itu tentu merasa terpukul sekali...bayangkan : Ayah ibunya sendiri menentangnya untuk mengenakan jilbab.

Si anak mencoba berpegang teguh pada keputusannya akan tetapi ayah ibunya mengancam akan memutuskan hubungan orang-tua dan anak bila ia berkeras. Dia tidak akan diaku anak selamanya bila tetap mau menggunakan jilbab. Anak itu menggerung-gerung sejadi-jadinya. Dia merasa menjadi anak yang malang sekali nasibnya.

Tidak berputus asa, dia meminta guru tempatnya bersekolah untuk berbicara dengan orang tuanya. Apa lacur sang guru pun menolak. Dia mencoba lagi berbicara dengan ustad dekat rumahnya untuk membujuk orang tuanya agar diizinkan memakai jilbab... hasilnya? Nol besar! Sang ustad juga menolak mentah-mentah. Belum pernah rasanya anak ini dirundung duka seperti itu. Dia merasa betul2 sendirian di dunia ini. Tak ada seorangpun yang mau mendukung keputusannya untuk memakai jilbab.

Akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan truf terakhir. Dia berkata pada orang tuanya,"Ayah dan ibu yang saya cintai. Saya tetap akan memakai jilbab ini. Kalau tidak diizinkan juga saya akan bunuh diri."

Sejenak suasana menjadi hening. Ketegangan mencapai puncaknya dalam keluarga itu. Akhirnya sambil menghela napas panjang, si ayah berkata sambil menahan amarah,

"Asep!! Naha ari maneh...ari budak awewe mah heug bae.

Maneh teh pan budak lalaki naha make jeung hayang di jilbab sagala?!!"