Daisypath Anniversary tickers

Monday, October 30, 2006

Kebahagiaan

Perasaan sayang yang kita miliki terhadap orang lain, entah itu orang tua, suami, anak, sahabat, atau siapa pun, membuat kita ingin selalu membahagiakan mereka. Rasanya ingin selalu bisa menghadirkan senyuman di wajah mereka.
Sayang nya diri ini begitu lemah, dan begitu banyak kekhilafan. Ada begitu banyak harapan mereka, orang - orang yang mencintai kita, yang rasanya tidak mampu kita wujudkan. Ada begitu banyak kelemahan dan kekhilafan kita yang terkadang menorehkan kesedihan di hati mereka.
Seandainya mereka tahu, bahwa hati kita hancur saat mereka meneteskan air mata karena kita. Seandainya mereka tahu, bahwa hati kita tersayat ketika mereka tersakiti, seandainya mereka tahu bahwa kita lah orang pertama yang meneteskan air mata ketika mereka bersedih.
Subhanallah, memang diri ini begitu lemah. Hanya mampu mengangkat kedua tangan, hanya mampu melantunkan seuntai do'a kepada Yang Maha Pemilik segala sesuatu.
Ya Allah, berikanlah hiburan untuk kesedihan mereka dan berikanlah pengganti yang jauh lebih baik bagi mereka untuk semua harapan mereka yang belum mampu hamba wujudkan.
To every one in my mind right now, May Allah shower you with His love, for the love that you shower me ...

Tertatih ...

Dan tertatih menjalani .. segala kehendak-Mu ya Rabbi ...
Ku berserah .. ku berpasrah .. Hanya pada-Mu ya Rabbi ..

The previous song lyrics might be the most appropriate description of how I feel now.
Tertatih …

I do belive that Allah has created the best path of life for every one of us. And I do believe that Allah is the mercyfull and He won’t abandon us. But I’m sure that every one must have their momments, when they felt a little bit tired or a little bit confused of what they are facing in life.

The gap between our hope and reality, the difference between what we expect and what God has given us, our life planning that sometimes don’t get inline with things that happened in our life, things that happened in our life that we could not comprehend, all of that must have decrease our patience somehow.

Tertatih …
I guess that’s the right word. Regardless all the tiredness, all the sadness, we still have to walk on the path of life that God has created. Still have to hold on to our faith, that somehow,someway, this is the best path of life for us. Still have to belive that tears are not forever, that the morning sun will always smile at us after a frighten dark, that the rainbow will comes after rain.

With all the faith, all the strength, and all the patience I have left, I wish I could still see all the things in life from an entire point of view, from all side. Including the bright side .. :-)

Friday, September 15, 2006

my birthday

My first birthday as a married woman, as a wife ...

Banyak sekali kejutan. Kejutan dari ibu, bapak, dari kakak dan adik, my friends, dan untuk pertama kali nya menerima kejutan dari suami tersayang juga dari ibu mertua.

Banyak sekali yang patut disyukuri. Allah sudah memberikan begitu banyak nikmat. Dari tahun ke tahun selalu ada yang baru.

Banyak sekali yang hilang. Waktu terus berjalan, tapi belum banyak yang bisa dihasilkan. Belum banyak prestasi yang sudah dicapai. Baik itu prestasi utk diri sendiri, prestasi utk ummat, dan sekarang, prestasi utk keluarga baru yg sedang dirintis. Ada planning - planning yang dihadang kegagalan, ada langkah - langkah yang belum dirumuskan, dan masih ada kebekuan dan kemalasan yang masih belum juga terpecahkan.

Semoga menjadi lebih baik di tahun mendatang ... (ayo dong upi .......)

Tuesday, July 18, 2006

kehidupan

Kehidupan adalah rangkaian dari persimpangan jalan dan pilihan
Kehidupan adalah rangkaian dari keputusan yang kita buat

Dan semoga ...

Kehidupan juga merupakan rangkaian dari keistiqomahan
Rangkaian dari kesabaran dan keteguhan
Rangkaian dari curahan rahmat dan hidayah Allah yang selalu menaungi

Sehingga Allah selalu meridhoi keputusan kita
Allah selalu mengiringi pilihan kita
Dan semoga Allah selalu menyertai setiap langkah kita

Amiin ya Rabbal 'alamin

Sunday, June 18, 2006

Mengapa Saya Bahagia ...

Tulisan di bawah ini dikutip dari tulisan yang ditulis oleh Ibu Della Y. A. T. Saya yakin beliau tidak keberatan jika saya publish disini. Semoga dapat diambil hikmah nya, terutama bagi teman - teman yang mungkin sedang mengalami dilema yang sama. Tulisan ini juga merupakan suatu bentuk penjabaran mengapa saya mengganti "mimpi - mimpi" saya sebelum menikah dengan "mimpi - mimpi baru " setelah menikah .

----------------------------------------------------------------------------------------------

Catatan Hati : Mengapa Saya Bahagia


Aku berusaha tahu apa yang aku mau dan aku mau kamu juga tahu sayangku.
Saya lanjutkan catatan ini dengan menekankan perlunya setiap diri, baik calon istri dan calon suami untuk senantiasa berusaha mengetahui apa-apa yang menjadi recana hidupnya di kemudian hari. Ikhtiar untuk mengenali diri kita, kelemahan dan kekuatan, serta rencana-rencana ke depan yang telah kita susun sebelum bertemu, merupakan titik awal komunikasi calon suami istri yang sangat penting. Disinilah kita belajar hal-hal yang dianggap penting oleh calon pasangan kita masing-masing. Mengingat bahwa suami akan menjadi kepala rumah tangga, dan secara Islam tanggung jawab seorang perempuan berpindah dari tangan ayahnya ke suaminya, kemampuan untuk mendefinisikan, membagi, dan menyelaraskan rencana kehidupan ke depan menjadi sagat penting bagi perempuan. Sayangnya, hal ini pulalah yang seringkali luput dari perhatian ketika akan atau telah menikah. Ada yang berpikiran, sebagai istri ketaatan kepada suami (setelah ketaatan kepada Allah) adalah yang utama, maka cukuplah bagi saya berkhidmat atas keputusan suami. Ada pula yang berfikir bahwa insya Allah, (calon) suami saya orang sholeh, tentu dia tidak akan berbuat dzalim terhadap istrinya. Ada juga yang tidak ingin memberatkan dan menyusahkan suaminya…
Itu semua betul saudariku, tapi itu semua juga tidak menghilangkan pentingnya kita mengkomunikasikan rencana kita atas diri kita selama ini. Rencana2 yang kita bagi bukan untuk menyusahkan suami, tapi justru untuk memenuhi haknya agar dia menjadi pemimpin yang adil. Ayah dan ibu kita, mengenal kita sejak kita lahir, tentu mereka tahu apa yang membuat kita bahagia dan apa yang membuat kita sedih, apa yang membuat kita bersemangat dan apa yang membuat kita lesu dan kehilangan gairah. (Calon) suami kita pun perlu dan berhak tahu. Mengapa? karena dia berhak dan perlu mengenal kita seutuhnya, apa adanya, yang dengan pengetahuan itu dia menjadi pengambil keputusan yang adil atas urusan-urusan kita. Tentu, rencana-rencana tadi bukan untuk kita paksakan setelah kita berumah tangga, tapi untuk kita selaraskan dengan rencana-rencana pasangan kita.
Wahai suami, berusahalah untuk tahu rencana-rencana hidup istrimu, terutama sebelum dia bertemu dan menikah denganmu. Sekian tahun umur istrimu dia habiskan sendiri dengan segala rencana, perjuangan, dan aktualisasi diri. Itulah yang menjadikan dirinya sebagaimana kamu melihatnya ketika akan menikah. Jangan sampai kelalaian para suami untuk mencari tahu hal-hal yang menjadi semangat dan kebahagian istri sebelum menikah, menjadikan masalah dalam rumah tangga di kemudian hari. Banyak masalah perempuan setelah menikah terkait dengan isu mendasar ini. Dimana tanpa disadari seorang istri atau seorang ibu kehilangan gairah dan semangat hidupnya dari hari ke hari.
Inilah pilihanku, insya Allah ini yang terbaik buat keluarga kami saat ini
Setelah kita awali komunikasi dalam rumah tangga dengan berbagi harapan dan rencana hidup kita, saatnya bagi kita untuk menyelaraskan itu semua dan menyusun rencana bersama. Kehidupan rumah tangga tentu sesuatu yang sangat baru bagi kita berdua. Sesuatu yang baru ini tentu menuntut penyesuaian atas segala harapan, rencana, dan kebiasaan kita selama ini.
Satu hal penting yang seringkali terlupa adalah hendaknya setiap diri (baik istri maupun suami) bisa mengatakan: “inilah pilihan saya, insya Allah inilah yang terbaik untuk keluarga kami saat ini”. Kemampuan untuk mengatakan kalimat ini sangat penting, ini menunjukkan bahwa apa yang kita jalani adalah pilihan kita atas ikhtiar manusiawi kita membuat rencana kehidupan rumah tangga. Disini pentingnya kita sama-sama mnegenali diri, sehingga pilihan ini bisa mengakomodasi rencana-rencan diri. Jadi hidup berumah tangga bukan hanya didasarkan pada “kepasrahan” atas apa yang ada di depan mata, tapi lebih kepada “keridhoan” atas apa yang akan kita jalani.
Dengan kemampuan ini, perempuan yang semula aktif di luar rumah tidak akan merasa sedih jika keaktifannya hanya di rumah saja dan memfokuskan pada mengurus suami, anak, dan keluarga jika memang itu yang paling baik untuk keluarga itu pada saat itu. Atau jika pilihan kita berbeda, misalnya kita memilih untuk tetap beraktivitas (entah itu sekolah, dakwah, atau bekerja), kita bersabar akan kondisi yang kita hadapi…
Intinya adalah, dengan menyadari bahwa keputusan ini adalah pilihan yang kita ambil, insya Allah kita akan percaya diri menjalani pilihan hidup kita saat itu. Pilihan kita mungkin sama dan juga mungkin tidak sama dengan orang lain, tapi insya Allah pilihan itu yang lebih baik bagi kita saat itu. Mengapa saat itu? Ya, karena pilihan-pilihan kita bisa berubah bergantung kondisi rumah tangga. Punya anak kecil yang sedang menyusui, tentu berbeda dengan pilihan aktivitas ketika anak sudah mulai besar, misalnya. Satu hal yang tidak pernah berubah adalah visi dan rencana jangka panjang keluarga ini, sesuatu yang membuat kita berdua sama-sama bersemangat mengayuh bahteranya.

Monday, June 05, 2006

satu lagi tentang .... Cinta

Ingin rasanya saya berbagi dengan banyak orang tentang cinta. Walaupun saya bukan orang yang sangat faham tentang cinta, tapi setidaknya saya bisa berbagi apa yang saya rasakan.

Cinta itu adalah anugrah dari Allah. Anugrah yang Allah berikan sebagai hadiah bagi orang – orang yang bersabar, orang – orang yang menjaga kehormatan dirinya dan berpegang teguh pada syari’at Nya.

Karena cinta adalah anugrah dari Allah, maka tak perlu dipertanyakan lagi ketulusannya. Karena cinta anugrah, maka rasa sayang hadir dengan sendirinya sebagai turunan dari rasa cinta. Karena cinta anugrah dari Allah maka air mata akan menetes dengan sendirinya ketika melihat kesedihan orang yang kita cintai. Karena ia anugrah, maka senyuman akan mengembang dengan sendirinya ketika melihat kebahagiaan orang yang kita cintai. Karena cinta adalah anugrah dari Allah, maka kita akan mudah bersabar dari "gangguan" orang yang kita cintai. Karena cinta adalah anugrah dari Allah, maka ia akan selalu terasa menyejukan, menenangkan dan menggairahkan.

Dengan cinta itu, akan ada dorongan tersendiri bagi kita untuk melakukan semua kebaikan demi kebahagiaan orang yang kita cintai. Karena kita tahu, kalaupun kebaikan itu tak berbalas, maka Sang Pemilik cinta lah yang akan membalasnya. Dengan cinta itu, kita akan terdorong untuk selalu memelihara dan merawat orang yang kita cintai agar selalu berada dalam lingkaran kebaikan. Karena kita tahu, ketika kita melakukan hal itu, kita akan dicintai oleh dia dan Dia sekaligus. Dengan cinta itu, kita akan mencintai setulus hati tanpa melupakan cinta kepada Sang Pemilik cinta. Karena ketika kita mencintai setulus hati maka pada saat yang sama bertambah pula kecintaan kita kepadaNya. Dengan cinta itu, kita akan mudah untuk terus bersabar, menerima orang yang kita cintai apa adanya, mengerahkan semua upaya untuk memelihara cinta itu, dan membantu orang yang kita cintai untuk berkembang menjadi orang yang lebih baik. Karena hanya surga lah yang ada di mata kita ketika kita melakukan semua itu.

Untuk semua orang yang telah berjalan terlalu jauh dari Allah demi mengejar cinta, kembalilah .. karena Allah selalu punya cinta untuk menerima kita yang bergelimang dosa.
Cinta sejati hanya ada pada kening yang bersujud dan jiwa yang pasrah ...

Wednesday, May 31, 2006

Cinta

Cinta ... kenapa mudah sekali orang bilang cinta. Apakah mereka benar - benar memahami apa itu yg dinamakan cinta ? Menginginkan seseorang atas nama cinta dengan mengorbankan sekian banyak orang disekelilingnya yang benar - benar mencintainya, apa itu yang dinamakan cinta ? Keinginan memuaskan nafsu syahwat dengan mengorbankan Sang Pemilik Cinta yang telah melimpahkan begitu banyak rahmat-Nya, apa itu yang dinamakan cinta ? Menempatkan cinta untuk seseorang di atas cinta kepada Nya, dan melupakan bahwa akan datang hari pembalasan dari Nya, apa itu yang dinamakan cinta ? Membingkai cinta dengan mengatasnamakan cinta kepada Nya padahal pada saat yang sama tengah menginjak injak syari'at Nya, apa itu yang dinamakan cinta ?

Kenapa banyak sekali orang yang rela mengorbankan banyak hal untuk memuaskan nafsu sesaat yang dinamakan cinta. Apakah mereka benar - benar menyadari akan segala konsekuensi nya ?

Tiba - tiba saya merasa sangat muak dengan kata "cinta" ...