Daisypath Anniversary tickers

Monday, February 18, 2008

I'm a Student

Yah, kita semua adalah murid, dalam madrasah kehidupan ini. Dalam setiap fase kehidupan kita, kita adalah murid. Orang yang belajar dan terus belajar. Tidak ada satu pun kondisi yang kita hadapi dalam kehidupan kita yang pernah kita alami sebelumnya.

Kita belum pernah menjadi seorang anak sebelumnya. Oleh karena itu kita terus belajar bagaimana sebenarnya bersikap kepada orang tua, bagaimana memahami apa yang mereka hadapi. Belajar memahami sikap mereka ketika kita kanak – kanak, remaja, dan dewasa. Juga belajar bagaimana menghadapi kelebihan sekaligus kekurangan mereka sebagai orang tua.

Kita belum pernah menjadi istri/suami sebelumnya. Kalaupun ada yang menikah untuk kedua atau kesekian kalinya, tidak mungkin dia menghadapi kondisi yang 100 persen persis sama. Oleh karena itu kita harus belajar. Belajar memahami pasangan hidup kita. Belajar membaca pikirannya, apa yang dia suka dan apa yang dia tidak suka untuk kita lakukan. Belajar memposisikan diri sebagai setengah bagian yang harus melengkapi pendamping hidup kita. Belajar memahami emosi, perasaan ataupun pikiran yang melintas dalam kepala kita yang belum pernah kita alami sebelumnya. Dan yang menurut saya paling sulit adalah, belajar mencintai. Bukan untuk hari ini, bukan untuk besok, bukan juga untuk bulan ini atau tahun ini. Tapi belajar mencintai setiap hari. Mencintai dia hari ini, besok dan setiap hari nya sampai kelak Allah mempertemukan kita dengan pasangan kita di surga-Nya (amiin..).

Kita belum pernah menjadi orang tua sebelumnya. Kalaupun ada orang tua yang memiliki lebih dari 1 anak, pasti tidak akan mungkin mereka menghadapi kondisi yang 100 persen persis sama. Oleh karena itu kita harus belajar. Belajar menjadi orang tua bagi anak kita yang masih balita, belajar menjadi orang tua bagi anak yang sudah remaja atau dewasa. Belajar menjadi orang tua untuk si sulung, si bungsu, untuk anak yang perempuan, maupun yang laki – laki.

Dalam setiap fase kehidupan kita, dalam setiap peranan hidup kita, kita harus belajar. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, terpaksa atau sukarela, setiap orang pasti mengalami proses belajar dalam kehidupannya.

Dan yang pasti terjadi dalam sebuah proses pembelajaran adalah.. kegagalan. Tidak ada murid yang selalu mendapat nilai sepuluh dalam ujian yang ia lakukan. Tidak ada mahasiswa yang setiap tahun nya mendapat nilai A untuk semua matakuliah. Tidak ada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tidak ada orang yang rangkaian kehidupannya hanya diisi dengan keberhasilan dan kesuksessan. Semua orang pasti memiliki kesamaan yaitu mereka pernah mengalami kegagalan. Yang berbeda adalah bagaimana menyikapinya.

I’m a student
Sometimes I’m successful, other times I failed.
I never meant to be failed, I try to deal with my failure instead

Wednesday, February 13, 2008

marriage

On the occasion of our 2 years and 3 month anniversary, and on the occasion of valentine’s day which is the day where almost the whole world suddenly become the slave of something they call love, I would like to copy an understanding about love and marriage that was reviewed in the book called To Be a Muslim. The book was written by Fathi Yakan.

Have a nice read…
------------------------------------------------------------------------------------
Acceptance of Islam carries the obligation to be part of its message by living one’s life in accordance with this message so that one is a Muslim in belief, worship, and morals. Living the message of Islam means working hard within one’s surrounding community at all levels from the family to the nation, to the community of mankind, since Islam was revealed for all mankind.

The Messenger of Allah (s) said: Whoever does not care about Muslims is not one of them.

If one’s duty is to establish the ummah or moral community in one’s society and to convey Islam to this society, the first step in fulfilling this duty is to make one’s home Islamic. One must establish the din or Islamic way of life in one’s immediate community, that is, in one’s family, with one’s wife or husband, children, and relatives in the extended family.

This is exactly what the Messenger of Allah (s) did at the beginning of his mission. Allah, the Almighty, has said: So call not on any other god with Allah or you will be among those under the penalty. And admonish your nearest kinsmen, and lower your wing to the believers who follow you. [Qur’an 26:213-215]

So the first responsibility of a Muslim, other than to oneself, is to one’s family, because Allah, the Almighty, has said: O you who believe! Save yourselves and your families from a fire whose fuel is men and stones, over which are (appointed) angels stern (and) severe who flinch not (from executing) the commands they receive from Allah, but do (precisely) what they are commanded? [Qur’an 66:6]

Responsibilities Before Marriage

Islamic teachings and practices help one to establish a Muslim family and secure it on the right path. The following directives facilitate observance of marital responsibilities:

1. Marriage is for the sake of Allah.
Its purposes are to establish a Muslim family, have offspring, transmit the message of Allah, and through them, carry on the human race. Allah, the Almighty, has said: Say: ”Allah did choose Adam and Noah, the family of Abraham, and the family of ’Imran above all people, offspring, one of the other. [Qur’an 3:34]

2. Marriage serves to protect one’s modesty and dignity, and one’s fear of the Lord.
The Prophet of Allah (s) said: Three [people] are entitled to Allah’s help. The fighter (mujahid) in the cause of Allah, the trustee, and the person who marries for protection (of his or her modesty). [Tirmidhi]
Whoever marries, has completed half of his religion, and the other half is fear of Allah. [Tabrani]

3. The choice of a lifetime partner, a wife or a husband, demands one’s best effort.
The Messenger of Allah (s) said: ”Choose[the best] for your generation because [the failure of a single] generation can lead to a crisis.” [Ibn Majah]

4. The qualities of a good wife are good behavior and religious commitment, not wealth and beauty.
The Messenger of Allah (s), said: Do not marry women because of their beauty; their beauty may spoil them. Do not marry them because of their money; their money may oppress them. But marry them because of their piety (din). And a slave girl, deaf, but pious is better. [Ibn Majah]

If a man marries a woman because of her (worldly) status, Allah will reward him only with degradation; and if a man marries her because of her wealth, this will bring him only poverty; and if a man marries because of her family, Allah will reward him only by humiliation; but if a man marries for the sake of Allah, Allah will bless him with her and bless her with him. [Tabrani]

Responsibilities In Marriage

The choice of a good spouse does not reduce one’s responsibilities after the marriage. As a matter of fact, one’s major responsibilities start right at the first moment of marriage. These are to:

1. Deal with one’s wife kindly so as to achieve mutual understanding.
The Messenger of Allah (s) said: The best of you are those who are best to their wives and I am the best (among you) to my family. [Ibn Majah and Al-Hakim]

The believers with the most perfect faith are those who have the best disposition and are kind to their wives. [Tirmidhi]

2. Develop harmony in thought and spirit based on love and not only on sexual compatibility.
A Muslim couple should read together, worship together, organize things together, and have time to enjoy each other and play together. Thus the Messenger of Allah (s) used to challenge his wife, ’Aisha, to run races and helped in her housework, even by mending shoes.

3. Base the relationship of marriage on Islam and in no way denigrate it or forsake it for convenience or out of weakness.
It was narrated that the Messenger of Allah (s) said: ”Whoever is submissive to the likes and dislikes of a woman will be thrown by Allah into Hell,” and. ”A man’s sin is as great as his wife’s ignorance.”
And, ”Shame on a man who becomes his wife’s slave.” [Al-Firdausi]

Sunday, February 10, 2008

Aisyah kecil duduk termanggu

Aisyah kecil duduk termanggu,
Wajah kecil nan lugu terlihat sangat sendu
Dia bilang…

Dulu aku punya ayah dan ibu
Walaupun keluarga kami tak sempurna,
Tapi aku punya ayah dan ibu

Sekarang ayah ku sangat sibuk
Sibuk mencari ibu baru untuk ku
Ibu yang menurutnya lebih baik dari ibu ku

Sekarang ibu ku juga sangat sibuk
Sibuk mempertahankah ayah ku
Kalau ia tak mampu,
Ia juga akan mencarikan ayah baru untuk ku

Ayah ku tak pernah lupa kirimkan uang untuk ku
Yang ia lupa, kirimkan kasih sayang untuk
Aku dan saudara – saudara ku

Ibu ku tak pernah lupa menyediakan makanan untuk ku
Yang ia lupa, sediakan pelukan dan belaian untuk
Aku dan saudara – saudaraku

Aku tidak pernah tau,
Kenapa Tuhan lahirkan aku
Sebagai anak ayah dan ibu ku

Yang Aku mau
Orang tua yang lebih baik dari ayah-ibu
Yang Aku mau
Keluarga yang lebih baik dari keluargaku

Tapi Aku tau
Bahwa Tuhan lebih tau
Apa yang terbaik untuk ku

Tapi Aku tau
Tuhan lebih tau
Bahwa aku mampu

Aku hanya perlu menemukan kekuatanku ...

Tuesday, January 22, 2008

Wahai diri

Wahai diri, beistirahatlah sejenak dari semua jerih payah mu untuk memiliki anak. Entah berapa banyak uang yang telah dikeluarkan, energi yang dicurahkan, dan emosi yang terkuras selama ini ..

Beristirahatlah sejenak…

Buka kembali lembaran – lembaran motivasi mu untuk menjalani semua ini. Apa yang tertulis di dalam nya? Mengapa engkau begitu menggebu – gebu ingin memiliki keturunan? baca kembali rangkaian – rangkaian yang menjadi penyemangat mu selama ini. Apa yang dikatakannya?

Mungkin di lembaran itu tertulis betapa bahagiannya ketika akhirnya tanda positif tertanyang di alat test kehamilanmu. Akhirnya sesuatu yang diusahakan sekian lama tercapai juga.

Mungkin di lembaran itu tertulis betapa menyenangkannya ketika akhirnya bisa mengalami apa yang dialami oleh teman – temanmu sebelumnya. Akhirnya berhenti sudah pertanyaan banyak orang tentang kehamilanmu. Akhirnya tidak perlu lagi merasa tidak percaya diri, bersikap seolah – olah engkau adalah wanita yang tidak sempurna, wanita yang paling malang di dunia. Akhirnya tidak perlu lagi merasa iri terhadap orang – orang yang lebih dulu diberi kesempatan itu.

Mungkin di lembaran itu tergambar betapa menyenangkannya ketika hamil kemudian mendapatkan perhatian dari banyak orang. Dari sang suami tercinta, dari ibu dan bapak. Dimanja, diperhatikan, dijaga, dan dilimpahkan dengan kasih sayang jauh lebih banyak dari kasih sayang yang pernah dirasakan sebelumnya.

Mungkin di lembaran itu juga tergambar betapa menyenangkannya memiliki seorang anak yang lucu. Yang akan menghiasi hari – harimu. Memandangi perkembangannya hari demi hari. Melihat hal – hal baru yang dapat dilakukannya dari waktu ke waktu.

Wahai diri, apakah itu yang ada di lembaran – lembaran motivasimu? Jika memang itu, ambilah lembaran baru. Mari kita susun kembali, motivasimu menjalani semua ini. Simpan dulu lembaran – lembaran itu. Mari kita urutkan kembali prioritas dalam hidupmu.

Tuliskanlah di lembaran motivasi yang baru, bahwa motivasi mu menjalani semua ini adalah karena Allah. Dia-lah yang nomor satu. Jika kau tidak memasrahkan semua jerih payah mu untuk-Nya maka sia – sialah semua pengorbananmu.

Tuliskan dalam lembaran motivasi mu, bahwa karena Dia lah engkau menjalani semua ini. Karena Dia lah engkau begitu menggebu – gebu. Anak sholeh/sholehah adalah sesuatu yang akan kau persembahkan sebagai bekal akhiratmu untuk menghadap kepada-Nya kelak. Do’a anak sholeh/sholehah adalah penyelamat mu dari jeratan api neraka.

Dia –lah motivasi mu yang nomor satu. Karena tanpa bersandar kepada-Nya, berpegang kepada syari’at-Nya, maka anak tak lain hanyalah beban dunia, bahkan mungkin di akhirat kelak. Saat seorang anak hadir, mungkin kau merasa dia lah anugrah terindah di dunia. Saat dia kecil, hatimu begitu bahagia melihat perkembangannya. Tapi seorang anak tidak hanya menyenangkan saat dilihat, ada pula tingkah laku nya yang membuat kita kesal. Seorang anak tidak hanya penghias mata, ada pula sikap nya yang menguras air mata. Kelak ketika dia dewasa, logika dan naluri kemanusiaannya kadang bertentangan dengan idealisme yang ditanamkan orang tua nya.

Wahai diri, ingatlah bahwa hanya kepada Allah engkau bersandar, agar anak yang dikaruniakan menjadi anak yang menjadi kebanggaan mu di dunia dan dihadapan-Nya kelak.

Setelah itu, tempatkanlah dalam lembaran motivasi mu, Rasulullah sebagai alasan kedua dari semua usahamu. Tuliskanlah betapa Rasulullah Muhammad akan merasa sangat bangga, ketika engkau berkontribusi dalam menambah barisan mujahid/mujahidah pengikut risalah nya. Anak yang kelak akan kau hadirkan, akan menjadi penegak sunnah Rasulullah yang mulai, dan itu adalah bukti cinta mu pada nya.

Setelah Allah dan Rasul, barulah tempatkan suami mu tercinta dan kedua orang tua. Tempatkanlah suami mu sebelum dirimu. Karena pada nya kau tempatkan seluruh keta’atan mu setelah Allah dan Rasulmu. Sebuah kebanggan bagi suami mu ketika dia berkesempatan untuk menjadi seorang ayah. Menghadirkan seorang anak bagi nya, sama dengan menghadirkan sebuah kebanggan di hati nya. Dia memang tidak pernah menuntut hal itu, keshalihan nya membuat nya paham bahwa hanya Allah yang berkuasa menghadirkan seorang anak. Dia memang mencintai mu sepenuhnya. Ada atau tidak adanya seorang anak, tidak akan melunturkan rasa cintanya. Tapi bagaimanapun, jauh di lubuk hati nya, dia pun memiliki kerinduan yang tidak kalah besar nya dari kerinduan mu.

Barulah setelah itu, tempatkan semua impian – impian mu tadi. Tentang seorang anak sholeh/sholehah yang lucu, penghibur hati penghias mata. Tentang betapa indahnya menjadi seorang ibu. Tentang pahala jihad yang Allah janjikan untuk mu atas jerih payah mu dalam mengandung, melahirkan, dan membesarkan. Betapa indahnya impian itu. Tapi jangan kau lupa selipkan diantara impian – impian itu, sebuah rencana tentang bagaimana mewujudkannya.

urgently required...

Dibutuhkan Segera: Seorang Teman…

Lowongan yang aneh bukan ? Memang, entah kenapa akhir – akhir ini terasa sekali kehilangan peran seorang teman.

Kayanya temen – temen disekitar saya satu per satu mulai menghilang. Ada yang emang udah jarang banget ketemu, ada yang terpisah oleh jarak yang cukup jauh, walaupun bisa berkomunikasi tapi pasti ga seintens dulu, ada yang harus pindah ikut suami, ada juga yang menghilang dengan sendirinya dalam artian wujud nya ada tapi interaksi nya yang sudah sangat jarang (bahkan mungkin ga pernah).

Kangen sekali punya sosok temen yang bisa diajak ngobrol, cerita, mulai dari cerita yang ga penting sampe cerita yang menyangkut hidup dan mati (ciee…). Kangen juga sama acara makan bareng, belanja barang – barang yang ga perlu (ketawan deeh..), atau cuma sekedar jalan – jalan aja menghilangkan kebosanan.

Apalagi saya tipe orang yang susah sekali terbuka sama orang lain. Jadi kalau ada satu orang yang udah cukup dipercaya karena saya merasa nyaman di dekatnya, kemudian orang itu menghilang, biasanya susah sekali mencari penggantinya.

Suami ? Lain lah... Suami tercinta adalah pria biasa yang mungkin ga punya waktu untuk diajak ngobrol hal – hal yang menurut dia ga penting. Cinta, kasih sayang dan kesholehan nya tetap tidak mampu menampung sekitar 35 ribu kata yang saya ucapkan setiap hari. (Menurut buku Women are form Mars, Men are from Venus, kalo ga salah perempuan biasa mengucapkan sekitar 35 ribu kata per hari sedangkan laki – laki hanya 15 ribu kata per hari).

Suami dan teman, tetap memiliki tempat istimewa yang berbeda. Betapapun menyenangkannya menghabiskan waktu bersama suami tercinta, tetap saja ada Girl Talks, atau Girl Things yang ga bisa dikerjain bareng suami.

To all my best friends, miss u so much.. Miss u trully, madly, deeply..

Wednesday, January 16, 2008

One of My Inspiration

She has been my inspiration in writing. Her journey of life is one of my inspiration to see my life in a different point of view. I used to read her articles and books. Her first book that I read was Pagi ini Aku Cantik Sekali, and it was such an inspiring book.

Today, after quite a long time, I miss her writing. And I tried to trace her existence again. Finaly, after a few minutes of searching, my dearest friend, Mr. Google lead me to her multiply which consist of so many modest and inspiring article.

I suggest you to visit her and I guarantee that you’ll find the inspiration to see things in a different point of view. A better point of view…

Tuesday, January 15, 2008

Pilihan (Azimah Rahayu)

Hidup dengan permasalahannya bagaikan mendaki gunung terjal dan berliku. Dapat atau tidaknya kita menaklukkannya akan sangat tergantung pada paradigma dan pilihan sikap kita masing-masing. Apakah kita akan memilih menyerah bahkan sebelum mendaki, atau tetap mendaki beramai-ramai dan berhenti ketika telah menemukan tempat yang nyaman, atau tetap terus mendaki bersama segelintir orang dari puncak yang satu ke puncak yang lain. Dari gunung yang satu ke gunung berikutnya.
Surga dan kenikmatan hari akhir juga seperti gunung yang bertingkat-tingkat. Untuk mencapainya seperti mendaki gunung. Mungkin ada yang merasa cukup puas di kakinya saja, di lerengnya atau tetap berusaha sekuat daya dan kreatifitas untuk menggapai puncaknya.
Semuanya adalah pilihan. Dan setiap pilihan memiliki resiko dan hasilnya masing-masing. Tinggal seberapa besar kita memiliki nyali untuk memilih: Menjadi Quitters? (golongan yang cepat menyerah pada/menghindar dari tantangan?) Menjadi Campers? (Mendaki dan kemudian berhenti ketika merasa sudah cukup nyaman dengan sebuah situasi/ mencintai status quo) Atau mejadi Climbers? (Terus mendaki dan mendaki, hingga puncak pun terlalui.) Aku bertanya dalam hati: Yang manakah diriku?