Daisypath Anniversary tickers

Wednesday, March 09, 2005

Indonesian Moslem Bloggers

Sebenarnya mungkin tidak banyak yang tau blog ini, dan mungkin hal itu juga menyebabkan blog ini tidak terlalu banyak pengunjung. Mungkin kalau saya pasang automatic counter utk pengunjung blog ini, angka nya tidak akan lebih dari dua digit :D Tapi anehnya, hal itu justru membuat saya merasa lebih nyaman. Karena merasa bahwa saya bisa "menjadi diri saya sendiri", mengekspresikan sesuatu yang kadang tidak bisa diungkapkan, dan menulisakan semua hal yang kadang sulit untuk dikatakan.

Memang tidak perlu dipertanyakan lagi betapa besar manfaatnya berda'wah lewat tulisan. Dan harus diakui bahwa itu juga yang menjadi salah satu motivasi saya ketika membuat blog ini. Tapi rasanya saya masih harus banyak belajar lagi. Rasanya belum saatnya untuk "go public". Coba saja lihat tulisan - tulisan di blog ini. Saya masih belum bisa mengimplentasikan salah satu pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan. Semua emosi saya ketika saya sedang menulis, tumpah ruah di blog ini. Sisi - sisi pribadi dari diri saya yang mungkin tidak banyak orang yang tau, terbaca dengan sangat jelas di sini.

Jadi, sejujurnya agak sulit untuk mempersilahkan "semua orang" datang dan mengunjungi blog ini. Karena itu sama artinya dengan membuka diri saya untuk semua orang, termasuk orang - orang yang mungkin tidak begitu saya kenal, dan hanya saya kenal lewat dunia maya ini.

Belum lagi jika kita mengacu pada daftar panjang permasalahan hijab. Salah seorang teman saya bercerita bahwa para ikhwan merasa keberatan dengan fenomena akhwat yang mengaktualisasikan diri lewat blog yang mereka buat. Katanya itu membuat para ikhwan "tuing - tuing", karena mereka melihat sebuah fenomena yang membuat mereka menjadi lebih sulit untuk menjaga diri dari fitnah. Mungkin kita, para akhwat pemilik blog, bisa saja mengklaim bahwa mereka tidak bisa menjaga diri. Bahwa keinginan mereka untuk terhindar dari fitnah seharusnya tidak menghambat kreativitas kita berkarya, dalam bentuk apapun termasuk membuat blog.

Tapi..bukan kah sebuah kejahatan itu terjadi karena ada niat dan kesempatan. Begitu juga fitnah, dia terjadi tidak hanya karena ada niat, tapi juga karena didukung oleh kesempatan yang kadang memang terbuka dengan cukup lebar. Dan saya cukup khawatir bahwa saya juga bisa berkontribusi dalam menciptakan kesempatan itu lewat blog saya ini.

Jadi ... mohon ma'af untuk semua teman - teman yang sudah dengan semangat nya mengundang saya untuk bergabung dalam komunitas pemilik blog, karena rasanya untuk kesekian kali nya saya harus berkata tidak. Mungkin tidak untuk saat ini.

Sunday, March 06, 2005

no title

Sesuatu yang diawalnya istimewa bisa menjadi biasa ketika kita menemuinya setiap hari, dan sesuatu itu selalu ada bersama kita. Begitu juga dengan orang - orang yang ada di sekeliling kita. Terkadang, orang - orang yang selalu ada di sekeliling kita, orang - orang yang selalu ada ketika kita membutuhkannya, menjadi terlupakan keberadaannya. Kadang kita menjadi "terbiasa" dengan keberadaan mereka, sehingga kita melupakan betapa berharganya mereka. Kita seolah tersadarkan atau tersentak ketika tiba - tiba .... mereka sudah tidak lagi ada di sini. Entah itu terpisahkan oleh jarak, atau oleh aktivitas yang berbeda, atau bahkan terpisahkan oleh maut. Keberadaan mereka baru disadari nilainya ketika mereka justru sudah tidak ada.

"Barangsiapa saling mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan mencegah karena Allah, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan keimanannya." (H.R Abu Daud)

Muhammad bin Wasi'

Muhammad bin Wasi' adalah salah seorang panglima perang sebuah pasukan yang dipimpin oleh Qutaibah yang berada di sebelah timur wilayah kekuasaan Islam. Muhammad bin Wasi' ini terkenal akan kezuhudan nya terhadap dunia dan kecintaannya pada kehidupan akhirat.

Suatu hari, sang pemimpin pasukan, Qutaibah, mengumpulkan seluruh panglima perangnya kecuali Muhammad bin Wasi'. Qutaibah berkata kepada para panglima perangnya, "Akan ku tunjukan kepada kalian seseorang yang baginya dunia ini tidak lebih dari sebutir debu. Begitu cintanya dia kepada kehidupan akhirat sehingga kecintaannya itu yang menjadi energi dan pembakar semangat jihad nya."
Kemudian dipanggilah Muhammad bin Wasi'. Kepada Muhammad bin Wasi', Qutaibah memberikan sebuah hadiah. Sebongkah emas yang ukurannya hampir sebesar kepala banteng. Hadiah itu didapatkannya dari harta rampasan perang. Ia berkata , "Hai Muhammad bin Wasi', terimalah hadiah pemberian ku ini."

Sungguh di luar dugaan, ternyata Muhammad bin Wasi' menerima hadiah pemberian Qutaibah tersebut. Muka Qutaibah menjadi merah padam melihat kejadian yang sama sekali tidak disangkanya. Setelah Muhammad bin Wasi' dipersilahkan untuk pergi, Qutaibah mengirim salah seorang anak buahnya untuk memata - mati Muhammad bin Wasi'. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukkan oleh Muhamad bin Wasi' dengan hadiah pemberiannya tersebut. Dalam hati ia terus berdo'a, " Ya Allah, jangan biarkan dugaan ku melesat dari nya."

Beberapa saat kemudian anak buah nya kembali dan melaporkan apa yang dilihatnya. Ternyata sepulang dari menghadap Qutaibah, Muhammad bin Wasi' memberikan bongkahan emas pemberian Qutaibah tersebut kepada pengemis pertama yang ditemui nya di jalan. Diberikan kepada pengemis pertama yang ditemuinya, diberikan begitu saja. Tanpa perlu berpikir panjang. Seolah melepaskan seusuatu yang tidak ada harganya sama sekali. Senyuman pun terkembang di wajah Qutaibah. Segala Puji bagi Allah yang menjadikan dunia ini begitu kecil dibandingkan hamparan cinta dan kasih sayang-Nya.

Seperti apa rasanya mencintai Allah sehingga membuat kita melihat dunia ini menjadi begitu kecil ? Hanya orang - orang beruntung lah yang bisa merasakan belaian kasih Allah. Dan hanya orang - orang yang beruntung lah yang bisa merasakan cinta-Nya. Cinta yang begitu dahsyat. Cinta yang menenangkan jiwa yang sedang gundah. Cinta yang menggembiarkan hati yang sendu. Ya Allah, betapa indahnya dicintai dan mencintai-Mu.

Friday, February 25, 2005

Sudah Diputuskan [2]

"Emang kalau udah sekolah mau ngapain ? Banyak loh, yang nerusin sekolah cuma karena menghindari status pengangguran ato cuma gaya aja bisa S2. Padahal mereka tidak punya visi ttg apa yang akan dilakukan dengan keilmuan yang sudah dimiliki nanti. Ujung - ujung nya yah cari kerja juga dan menempati posisi yang tidak lebih baik dari lulusan S1. Atau ada juga yang memulai bisnis dari nol dan ketinggalan start dari lulusan S1 yang sudah memulainya beberapa tahun yang lalu. Yah pokonya ngga banyak manfaatnya lah."

Di satu sisi, saya sama sekali tidak setuju dengan pendapat itu. Karena banyak orang yang meneruskan sekolah bahkan sampai ke jenjang yang paling tinggi dan mereka menjadi orang - orang yang sangat berperan dalam dunia nyata karena mereka kompeten di bidang keilmuannya.

Di sisi lain… pendapat itu membuat saya banyak berpikir tentang orientasi dan motivasi saya untuk sekolah. Juga visi tentang apa yang akan saya lakukan dengan keilmuan yang saya miliki nanti. Dan setelah melalui proses pemikiran yang cukup panjang, saya sampai pada kesimpulan bahwa … sayangnya … saya termasuk orang - orang yang tidak punya visi dan planning yang jelas dan kongkrit tentang apa yang akan dilakukan setelah lulus S2.

Bagaimana bisa saya bercita - cita besar untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk ummat, berperan di wilayah yang kekurangan pemain, kalau saya bahkan tidak tahu peran apa yang akan saya mainkan. Apa yang akan saya lakukan ? Saya tidak bisa berkata pada diri saya sendiri bahwa, "yang penting sekolah biar nanti bisa berbuat sesuatu. Apapun bentuknya."

Dan akhirnya, saya harus mengambil jalan lain. Jalan yang Insya Allah lebih bisa mengoptimalkan potensi yang saya miliki. Jalan yang mungkin untuk orang lain terlihat sebagai sebuah kemunduruan. Tapi untuk saya, tidak ada salahnya mengambila satu langkah ke belakang agar kita bisa berlari lebih cepat ke depan. Jalan yang lebih jelas arahnya untuk saya. Karena saya punya visi, saya punya misi dan planning yang relatif lebih kongkrit.

Yap, SUDAH DIPUTUSKAN. Saya tidak akan melanjutkan sekolah. Setidaknya, tidak untuk sekarang. Sedikit sedih memang, karena harus melepaskan impian yang dipelihara selama hampir satu setengah tahun dan berusaha diwujudkan. Tapi dalam hidup ini tidak selamanya kita bisa melakukan sesuatu yang kita inginkan, ada saat - saat dimana kita harus melakukan sesuatu yang memang harus dilakukan walaupun bertentangan dengan keinginan kita pribadi.

Tapi tidak ada alasan untuk merasa ciut dan kecil. Karena saya masih bisa berkontribusi untuk ummat, bahkan mungkin lebih besar lagi kontribusinya karena saya memilih jalan yang ini. Saya masih bisa berperan di wilayah yang kekurangan pemain dan menjadi orang yang "luar biasa". Saya keluar sebagai pemenang…Insya Allah.

Bismillahi tawakkaltu laa hawla wa laa quwata illa billah…

"… Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." ( Q. S. 3:159)

Sudah Diputuskan [1]

Akhirnya saya mengambil keputusan itu. Setelah melalui proses yang cukup panjang yang diwarnai oleh kondisi emosi yang naik turun, diwarnai oleh seribu satu macam kebimbangan, akhirnya keputusan itu diambil juga. Walaupun masih aga sedikit ragu - ragu, tapi seperti yang dituliskan oleh seorang pengarang, manusia itu memang selalu dihantui keraguan dalam setiap keputusan yang diambilnya. Itu adalah manusiawi. Yang bisa kita lakukan hanyalah memperbesar porsi keberanian, ketawakalan dan keimanan kita terhadap Allah, Yang Maha Memutuskan, sehingga kita tidak akan terus diombang ambing oleh keraguan itu.

Yap, SUDAH DIPUTUSKAN. Saya tidak akan melanjutkan sekolah ke jenjang S2. Setidaknya tidak dalam waktu dekat. Walaupun belum banyak yang tau tentang keputusan ini, karena ternyata saya belum cukup berani untuk menceritakannya kepada orang - orang terdekat. Mungkin karena belum siap untuk mempertahankan argumen saya, dan belum siap untuk menghadapi kontroversi yang mungkin terjadi.

Saya ingat sekali, ketika saya sedang menyusun tugas akhir sebagai prasyarat kelulusan sarjana, saya selalu iri melihat teman - teman yang lulus kemudian mendapatkan beasiswa dan meneruskan sekolahnya ke luar negri. Dulu saya berpikir, senang sekali yah bisa jalan - jalan ke luar negri dan tinggal di sana selama beberapa tahun.

Setelah saya lulus, keinginan itu masih ada, bahkan berkembang menjadi lebih besar. Bedanya, sekarang dilengkapi dengan orientasi yang lebih "lurus". Saya ingin lebih cerdas, lebih maju, dan lebih luas wawasannya, menjadi orang yang "luar biasa". Ketika itu saya berpikir, saya ingin sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi, menggali bidang keilmuan saya lebih dalam lagi dan setelah lulus, berbuat sesesuatu yang lebih bermanfaat terutama untuk Islam. Mencerdaskan umat Islam, memajukan da'wah dan meninggikan panji - panji Allah. Mengambil peran di wilayah yang selama ini kekurangan pemain.

Impian itu sempat redup ketika diterjang oleh sejuta ketidak percayaan diri. Merasa tidak capable, IPK kecil, kurang banyak "koneksi", tidak didukung oleh dosen pembimbing, khawatir tidak akan mampu survive di dunia yang baru, dan jutaan sudut pandang pesismistis lainnya. Tapi, rezeki itu kan di tangan Allah. Apa yang sudah Allah tentukan tidak akan pernah luput dari kita. Dan apa yang tidak Allah tentukan untuk kita memang tidak akan pernah menghampiri kita. So, it's worth to try. Kalupun saya tidak berhasil, setidak nya saya sudah pernah mencoba. Dan kalau saya mundur, saya tidak akan pernah tau apakah saya bisa atau tidak dan saya akan keluar sebagai orang yang kalah.

Sehingga, dimulailah proses menuju ke sana. Mulai dari browsing - browsing sampai mata nya merah dan pedih. Kemudian belajar TOEFL dan ikut test nya. Tanya sana - sini. Mempersiapakan persyaratannya. Down load info - info dan form yang harus diisi. Mulai pasang ancang - ancang untuk minta rekomendasi dari dosen. Pokonya semua nya sudah siap. Tinggal jreng !!

Sampai suatu hari saya ditanya, "Emang kalau udah sekolah mau ngapain ? Banyak loh, yang nerusin sekolah cuma karena menghindari status pengangguran ato cuma gaya aja bisa S2. Padahal mereka tidak punya visi ttg apa yang akan dilakukan dengan keilmuan yang sudah dimiliki nanti. Ujung - ujung nya yah cari kerja juga dan menempati posisi yang tidak lebih baik dari lulusan S1. Atau ada juga yang memulai bisnis dari nol dan ketinggalan start dari lulusan S1 yang sudah memulainya beberapa tahun yang lalu. Yah pokonya ngga banyak manfaatnya lah."

Tuesday, February 22, 2005

Sisi Lain

Sudah beberapa minggu ini tidak ada posting baru di blog ini. Harap ma'lum :D Lagi kesenangan ngotak - ngatik web baru :D
Please don't be hesitate to visit my new web by clicking on this link :
http://www.freewebs.com/salma_syahidah/index.htm

Monday, February 07, 2005

.................

Sudah lebih dari satu minggu tidak ada posting tulisan baru di blog ini. Kenapa yah :-?
Pertama, memang akhir - akhir ini saya cukup disibukkan dengan laporan dan kunjungan dari para Bapak - bapak itu. Kedua, karena.....rasanya ngga ada yang mau ditulis :

.........................