Daisypath Anniversary tickers

Wednesday, August 20, 2008

ayo ke jermaan..

"Yang... DAAD udah dibuka tuh beasiswanya...
Ayo dong coba .. Ayang kan punya potensi, insya Allah bisa...
Lagian di Jerman kan ada teh marin.. jadi ga takut kalo sendirian kaan.. "

Untuk kesekian kalinya disemangati suami buat nerusin sekolah ke luar negri. Ya Allah.. sebenernya pingin sekali. Dari dulu, salah satu cita - cita terpendam yang sepertinya belum terlaksana adalah meneruskan sekolah. Sebenarnya bukan tidak berusaha, kalau bicara soal usaha, sudah 3 kali berusaha, walaupun semuanya tidak terlaksana.

Usaha pertama waktu beberapa bulan sebelum menikah, tapi saya batalkan karena waktu itu rasanya sulit untuk beradaptasi dengan suami kalau baru menikah trus beliau ditinggal pergi. Usaha kedua waktu mendaftar ke SBM, sudah diterima tapi akhirnya saya mengundurkan diri. Karena beasiswanya hanya setengah (partial scholarship) dan setengahnya lagi harus cari sendiri uang nya. Waktu itu masih belum kebayang gimana caranya mengumpulkan uang 20 juta dalam waktu 6 bulan. Usaha ketiga, tadinya berencana nemenin neng rela di Johor. Tapi akhirnya mengundurkan diri juga karena situasi dan kondisi yang kurang mendukung.

Dalam setiap usaha untuk meneruskan sekolah, suami saya yang paling semangat dan ada dibarisan terdepan sebagai pendukung. Jadi seharusnya kalau sudah ada izin dari suami, berarti sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Tapi, wallahu'alam sampai hari ini belum terlaksana.

Kadang saya berfikir, apa mungkin sebenarnya halangan untuk meneruskan sekolah itu datang dari dalam diri saya sendiri. Masih terlalu banyak takut nya. Takut belum bisa bertahan sendiri di negri orang. Takut meninggalkan pekerjaan yang sudah lumayan mapan. Takut tidak punya planning yang jelas setelah sekolah. Takut jauh - jauh dari suami (he..he..). Atau takut - takut lainnya.

Yang jelas.. cita - cita itu masih ada. Dan semoga bisa benar - benar terwujud suatu hari nanti.. Insya Allah..

Thursday, August 07, 2008

yang terbaik

“Aduh teh, gimana yaah… dari kemarin – kemarin udah takut banget krn udah telat dua minggu, eh ternyata bener.. positif… gimana yaah… “

Wajah nya merah, tampak sangat jelas kekhawatiran bahkan kesedihan dari raut mukanya. Ekspresi yang sangat tidak biasa yang saya lihat dari perempuan yang mengetahui bahwa dirinya sedang hamil.

Usianya hanya beberapa bulan lebih muda dari saya, tapi dia sudah memiliki dua orang anak. Saya bisa memahami kekhawatirannya. Anak – anaknya masih kecil. Yang nomer dua bahkan beberapa bulan yang lalu sempat divonis gizi buruk oleh dokter karena pertumbuhannya yang kurang normal. Suaminya adalah pekerja di pabrik. Dia dan keluarganya tinggal di rumah kontrakan yang hanya terdiri dari satu kamar dan satu ruangan. Kalau dilihat dari segi ekonomi, mungkin wajar ketika dia merasa belum siap untuk hamil lagi anak ketiga.

Sempat terbersit pertanyaan, kenapa dia… kenapa bukan ribuan wanita lain yang sedang menanti. Kenapa justru orang yang merasa tidak siap untuk hamil kemudian Allah karuniakan janin di rahimnya.

Kita memang tidak bisa memilih ujian apa yang Allah timpakan untuk kita. Sebuah kondisi bisa jadi baik menurut kita tapi belum tentu menurut Allah. Begitu juga sebaliknya, bisa jadi buruk menurut kita, tapi baik menurut Allah.

Keterbatasan kapasitas otak kita seringkali tidak mampu menjangkau kompleksitas scenario kehidupan yang Allah tuliskan untuk kita. Seringkali terbersit pertanyaan dalam hati kita, kenapa begini, kenapa tidak begitu, kenapa seperti ini, kenapa harus saya, kenapa harus begini jalannya, dan pertanyaan – pertanyaan lain yang serupa.

Mau tidak mau jawabannya harus dikembalikan kepada keimanan kita kepada Allah. Keyakinan kita bahwa Allah tahu yang terbaik untuk kita.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Q.S 2;216)

Wednesday, August 06, 2008

nostalgia ..

Tulisan ini sebenernya saya tulis sekitar 4 tahun yang lalu kalau ga salah.. Ini diambil dari arsip pribadi jaman baheula. Setelah menulis tulisan sebelumnya, entah kenapa jadi kangen dengan masa - masa kuliah dulu. Terutama kangen dengan temen - temen seperjuangan, kangen dengan nuansa - nuansa da'wah di kampus. Kangen dengan kajian di selasar IF lantai 2 yang pematerinya pasti deh.. teh marin (langganan.. ). Kangen dengan dauroh - dauroh, demo - demo, taujih - taujih, pokonya kangen semua nya... Semoga tulisan ini bisa kembali mengingatkan untuk tidak terjebak dalam nuansa masa lalu dan bisa terus bergerak, berbuat, dimana pun, dalam kondisi apapun.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dunia kampus memang dunia yang menyenangkan. Tempat dimana kita dibina, dibekali, dan tempat dimana terjadinya proses pembentukan kepribadian, pemahaman serta pola pikir kita. Dunia pertengahan dimana kita mengurangi jiwa kekanak - kanakan kita di masa sekolah dulu dan membentuk kedewasaan pola pikir serta sikap kita. Kita bisa berekspresi sebebas yang kita mau. Kita bisa melenggang dengan semua idealitas yang kita pahami. Kita bahkan boleh salah tanpa ada yang menghakimi. Karena kita sedang "belajar".

Lain hal nya dengan dunia pasca kampus. Dunia diluar batas - batas yang memagari tempat kita belajar. Dunia dimana kita menghadapi realita hidup yang selama ini jarang kita temui karena keasyikan kita bermain - main di dunia maya yang penuh idealita. Disini kita ditanya, "siapa kamu dan siapa saya ?" Disini kita ditanya, apa yang kita bisa. Di dunia yang baru inilah diuji semua pemahaman kita. Melunturkah pemahaman kita ? Menurunkah semangat kita dalam menegakan apa yang kita pahami ? Meleburkah kita dengan lingkungan yang justru bertentangan dengan idealita yang kita pegang selama ini? Semua akan dibuktikan disini.

Akan ada banyak kejutan - kejutan yang kita temui di dunia ini. Saya sendiri merasa terkejut melihat betapa asingnya saya di lingkungan yang baru ini. Betapa anehnya orang melihat jilbab saya yang terurai dan gaya busana saya yang sangat berbeda dengan yang lain. Betapa bingung nya mereka melihat saya yang tidak mau bersentuhan dengan lawan jenis dan menolak tawaran untuk pulang berdua dalam satu kendaraan yang sama. Saya tidak pernah membayangkan bahwa akan ada seorang pria yang berani menepuk bahu saya padahal saya merasa sudah cukup tegas dalam menentukan batas. Dunia baru ini memang menyimpan begitu banyak kejutan.

Mereka - mereka yang telah mempersiapkan diri dengan prima, mungkin akan bertahan dalam keistiqomahannya. Mereka - mereka yang selalu menghadirkan Allah dalam setiap langkah kaki dan pandangan nya, akan selalu berada dalam naungan-Nya. Mereka - mereka yang menghabiskan waktu untuk bernostalgia dan mengenang masa - masa indah semasa di kampus serta berharap agar segala sesuatunya kembali seperti dulu, tentulah akan terlindas oleh berputarnya zaman, dan tertinggal dari barisan kafilah mulia yang selalu berusaha agar hari ini lebih baik dari kemarin walau apapun resikonya. Mereka - mereka yang menyerah pada keadaan, berpasrah pada kelemahan diri, tentulah lambat laun akan melarut dalam kubangan hitam kehinaan.

Semua terserah kepada kita, termasuk kedalam golongan yang mana kah kita ?

Sisi lain yang juga merupakan konsekuensi dari terlepasnya kita dari dunia kampus adalah tuntutan untuk kembali memposisikan diri dalam desain besar da’wah ini. Karena setelah lulus dari kuliah, kita bukan lagi aktivis da’wah kampus dengan segala hak dan kewajibannya. Kita dituntut untuk meninggalkan pos kita yang lama demi membuka ruang bergerak bagi adik – adik kita para generasi baru dan demi mengisi atau menciptakan pos – pos da’wah yang lain.. Mungkin inilah yang cukup sulit dilakukan. Orang bilang, selepasnya dari kampus, para aktivis da’wah rentan terkena post power syndrom. Sebuah kondisi ketika kita dituntut untuk melepaskan dunia yang lama tapi kita belum sepenuhnya menemukan tempat di dunia yang baru.

Saya sendiri tidak bisa menghindarkan rasa kangen untuk kembali “turun ke jalan”, atau untuk kembali memenuhi koridor – koridor di sekitar masjid Salman, tempat dimana dulu orang lebih mudah menemukan saya ketimbang mencari di sekitar kampus. Tapi tetapi harus diakui bahwa tempat – tempat itu harus kita “tinggalkan”, kita harus memberi kesempatan bagi generasi yang baru untuk mengisi pos – pos da’wah yang pernah membuat hidup kita lebih “hidup”. Tempat kita bukan lagi di situ.

Suka atau tidak, kita sekarang dituntut untuk memenuhi pos da’wah yang lain, atau bahkan menciptakan pos da’wah yang baru. Biarkan adik – adik kita turun ke jalan, sementara kita duduk di ruang rapat tempat kita merintis da’wah profesi kita. Biarkan adik – adik kita memenuhi koridor yang penuh kenangan itu, sementara kita berusaha mengajak orang – orang berdasi di sekitar kita untuk memenuhi mesjid. Biarkan adik – adik kita yang berhadapan dengan barikade polisi pengawal patroli, sementara kita berhadapan langsung dengan masyarakat luas, dengan segala macam karakteristik dan permasalahannya. Biarkan adik – adik kita yang mengisi pos – pos da’wah yang pernah kita tempati dulu, sementara kita disini berusaha mengisi kekosongan pos da’wah yang lain.

Da’wah ini masih butuh para profesional yang tidak hanya bekerja mencari uang, tapi juga bekerja mensejahterakan ummat. Da’wah ini masih butuh orang – orang berdasi yang pantang untuk korupsi. Da’wah ini masih butuh para professor – professor yang akan mengantarkan ummat untuk meraih kembali izzah Islam nya. Da’wah ini masih butuh para ekonom yang tidak hanya membuat orang kenyang mendapat makan, tapi juga membuat orang miskin menjadi kenyang.

Masih banyak yang harus kita lakukan. Ucapkan selamat tinggal pada dunia da’wah kampus yang dulu, kalau lah kita harus kembali, bukan kembali untuk mengisi tempat yang sama seperti dulu. Jangan biarkan diri kita terus dibuai oleh kenangan masa lalu. Bergeraklah, memposisikan diri kita dengan peran kita yang baru dalam grand design da’wah ini. Jangan biarkan roda da’wah ini berputar tanpa kita ikut berputar bersamanya.

Saya bukan orang yang sukses di dunia nyata pasca kampus. Mungkin belum. Tapi saya selalu berharap bahwa izzah sebagai seorang muslim itu akan tetap tertanam dalam benak saya. Bahwa janji nahnu du'at qobla kulli syai'i itu akan tetap tertunaikan. Semoga Allah memberikan kemudahan.

antrian yang sama ... sepuluh tahun yang lalu

Sejak hari senin kemarin area di sekitar gedung annex di komplek rektorat ITB cukup ramai dipadati oleh antrian mahasiswa baru. Setahu saya memang pendaftaran mahasiswa baru yang dinyatakan lulus melalui tes SNMPTN memang sudah dimulai.

Teringat kembali antrian yang sama sepuluh tahun yang lalu. Bulan Agustus 1998. Saya masih ingat waktu itu datang sekitar jam 8 pagi dan ternyata antrian sudah sangat panjang di luar gedung GSG ITB. Masih ada perasaan exciting dan setengah tidak percaya karena bisa diterima di ITB. Tapi ada juga perasaan sedikit takut, takut ada persyaratan yang kurang, takut ga bisa dapat temen di lingkungan yang baru, takut di ospek juga ).

Sampai hari ini, saya sangat bersyukur karena pernah mendapatkan kesempatan untuk berdiri di antrian itu. Bukan hanya bersyukur karena bisa belajar di kampus dengan sistem dan fasilitas pendidikan yang relatif cukup baik, tapi juga sangat bersyukur karena bisa menemukan lingkungan yang saya cari setelah sekian lama.

Bersyukur karena menemukan wajah - wajah teduh yang mengajarkan saya apa arti hidup. Membimbing saya dengan penuh keikhlasan menuju cahaya. Membantu saya memahami apa itu cinta, kasih sayang, pengorbanan dan perjuangan. Memberikan bekal bagi saya untuk bisa menilai mana yang baik, mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah.

Untuk teteh - teteh, akang - akang, ukhti, akhi, adik - adik tersayang, dan semua orang yang pernah menjadi bagian dari cerita cinta saya di kampus Ganesha, Semoga Allah membalas semua kebaikan dengan balasan yang berlipat ganda. Semoga Allah selalu mengekalkan ikatan hati kita dalam keimanan kepada-Nya. Semoga kita selalu dipersatukan Allah bersama dengan orang - orang yang berjuang di jalan-Nya. Semoga cerita - cerita dan kenangan yang pernah ada akan selalu menjadi inspirasi untuk bersabar dalam keta'atan kepada-Nya.

Thursday, July 31, 2008

sekolah orang kaya

Dari sekitar 2000 lebih bangku kuliah yang tersedia di ITB, hanya sekitar 30% dari jumlah itu yang dapat diisi melalui test seleksi SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri). Sisanya akan diisi oleh mereka yang dinyatakan lolos melalui seleksi USM (Ujian Saringan Masuk) ITB. Dari 70% sisa bangku kuliah yang ada di ITB, hampir semuanya akan diisi oleh mereka yang mampu menyumbang di atas 45 juta rupiah. Hanya beberapa bangku saja yang disediakan untuk mereka yang mendaftarkan diri melalui seleksi USM jalur ekonomi.

Katanya ini untuk meningkatkan kualitas ITB. Katanya ini dalam rangka menuju World Class University. Katanya ini dalam rangka meningkatkan daya saing internasional. Katanya ini merupakan program untuk mencerdaskan bangsa.

Kondisi ini tidak hanya ada di ITB. Tapi UI, UNPAD, UGM, dan hampir semua perguruan tinggi yang saya tahu, semua membuka seleksi khususnya sendiri. Seleksi yang menurut saya lebih banyak menguji tentang seberapa banyak uang yang mereka mau dan mampu keluarkan untuk masuk di perguruan tinggi tersebut.

Hari ini ada ratusan anak yang tersenyum bahagia, karena nama mereka terpampang dalam daftar mahasiswa baru ITB. Dan pada saat yang bersamaan ada ribuan anak yang menangis karena harus menyimpan atau bahkan menguburkan dalam - dalam impian mereka untuk kuliah di salah satu insititut terbaik di Asia Tenggara. Bukan karena mereka tidak cukup pintar, tapi kemungkinan besar adalah karena mereka tidak cukup kaya untuk masuk di ITB. Masuk di sekolah orang kaya.

Somebody has to do something about this...

Monday, July 21, 2008

Ayah

Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

-----------------------------------------------------------------------------------------

Lagu Ada Band - Gita Gutawa. Diambil dari MP nya Ifah.

Mengingatkan akan kerinduan yang sangat dalam. Kerinduan yang sebenarnya sangat menyesakan dada..

Ya Allah.. aku mohon.. sayangilah mereka..

Sunday, July 20, 2008

reverse engineering

Walaupun belum punya anak, tapi saya suka membaca referensi - referensi tentang bagaimana mendidik anak, menanamkan al- qur'an sejak dini, dan info - info lain seputar anak - anak. Selain untuk persiapan , dunia anak - anak memang menarik untuk diulik. Dan hari jum'at kemarin, alhamdulillah dapet kesempatan untuk jalan - jalan melihat - lihat "hasil pendidikan islami" .

Awalnya didin yang posting link untuk masuk ke MP nya Ustz. Yoyoh dari situ nyambung ke web anaknya, trus nyambung lagi ke wordpress Afzalurahman (anak Ust. Mutammimul Ula yang ke 1--> Hafizh Qur'an usia 13 tahun), trus nyambung ke MP adiknya Aaf (Scientia Afifah --> Hafal lebih dari 10 Juz). Dan subhanallah.. bener - bener rekreasi yang menarik.

Melihat, membaca dan menelusuri jalan pikiran anak - anak yang dibesarkan dengan cara yang islami. Memang sedikit - sedikit masih terlihat sifat kekanak - kanakan yang menurut saya sangat wajar. Tapi juga sangat kentara pola berpikir, cara memandang, cara mereka menganalisa suatu masalah, bahkan aktivitas keseharian mereka yang berbeda dengan anak - anak seumurannya.

Kalau dalam dunia penelitian, sebuah produk unggulan bisa dihasilkan melalui dua metoda. Menelusuri teori untuk kemudian menghasilkan produk. Bisa juga dari produk yang sudah ada, diteliti, diuraikan metoda atau teknologi yang digunakan, untuk kemudian menghasilkan produk serupa atau yang lebih unggul dengan menggunakan teknologi yang diteliti tadi. Metoda kedua ini biasanya disebut dengan reverse engineering.

Nah.. menghasilkan "anak unggul" bisa juga kan dengan metoda reverse engineering