Daisypath Anniversary tickers

Friday, December 15, 2006

saat yang tepat


Allah selalu memberi kita segala sesuatu yang kita inginkan pada saat yang tepat. Subhanallah .. itu yang ingin terus dipeliharan dalam hati ini, walaupun sulit.

Dulu ketika di SMA rasanya susah payah saya memohon kemudahan agar saya bisa mendapat nilai – nilai yang bagus dalam pelajaran, tapi tetap saja, angka – angka di raport yah segitu – segitu juga. Sampai akhirnya kemudahan itu Allah kasih tepat pada saat UMPTN. Saya berhasil mengungguli teman – teman lain yang sebelumnya cukup cemerlang di kelas dan akhirnya saya diterima di salah satu institut terbaik di negri ini. Institut yang menjadi jalan pembuka hidayah untuk saya.

Setelah duduk di bangku kuliah, menjalani kuliah selama hampir 5 tahun, dengan susah payah juga saya berdo’a agar Allah memberi kemudahan dalam tugas akhir saya. Lama sekali rasanya sampai akhirnya Allah mengabulkan do’a itu. Rasanya sudah tidak terhitung berapa banyak air mata yang keluar dan kesulitan yang harus dijalani sampai akhirnya Allah bukakan pintu kemudahan. Tepat pada saat semua usaha rasanya sudah di coba, dan sudah tidak ada tempat bersandar lagi selain kepada Allah, Allah memberikan kemudahan untuk kelulusan saya. Walaupun nilai yang diberikan sang dosen tidak sebaik yang saya harapkan, tapi begitu banyak kemudahan yang Allah berikan mulai dari mengerjakan buku skripsi, seminar sampai akhirnya sidang, subhanallah. Dan tidak hanya itu saja, saya lulus tepat ketika ada lowongan pekerjaan dan saya diterima bekerja. Jadi tidak sempat menyandang status “pengangguran”, alhamdulillah.

Kuliah sudah selesai, diterima bekerja juga sudah, alhamdulillah, mulailah pikiran ini terkonsentrasi pada keinginan berikutnya. Menikah (standar sih memang). Sebenarnya keinginan untuk menikah sudah ada cukup lama. semenjak sebelum lulus. Tapi karena waktu itu masih terfokus pada tugas akhir, jadi belum terlalu benar – benar mempersiapkan diri untuk menikah. Baru ketika urusan kuliah sudah mereda, kemudian satu per satu teman – teman mulai melepas masa lajangnya, kemudian usia yang juga terus bertambah, keinginan untuk menikah itu semakin serius di persiapkan. Walaupun begitu, jodoh yang telah dipilihkan oleh Allah tidak serta merta datang setelah lantunan do’a yang pertama. Butuh puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan lantunan do’a sampai akhirnya sang labuhan hati itu datang. Tapi subhanallah, dia datang pada saat yang tepat sekali. Tepat ketika saya membutuhkan seseorang yang akan membuat saya tersenyum di tengah kepenatan. Tepat ketika begitu banyak masalah yang harus dihadapi dan saya membutuhkan seseorang yang akan menggenggam tangan saya dalam menghadapi masalah – masalah itu. Tepat ketika begitu banyak kekecewaan akan harapan yang belum terwujud dan saya membutuhkan seseorang sebagai penghibur hati.

Dan saat ini, saya sedang terus mencoba memelihara keimanan saya, bahwa Allah pun sedang menunggu waktu yang tepat untuk menganugrahkan saya “hiburan” berikutnya, yaitu seorang buah hati. Banyak hal sudah kami usahakan, lantunan do’a pun rasanya tidak pernah terlewatkan. Jangan tanya berapa banyak air mata yang sudah diteteskan, semoga semua itu tidak akan mengurangi kesabaran kami. Allah pasti akan menganugrahkannya pada saat yang tepat. Hanya tinggal menunggu sebentar lagi, karena bersabar itu tidak akan pernah lama.

Untuk yang selalu menghadirkan senyuman di kala hati berkelana dalam duka … Thank you for always being by my side ..

Friday, December 01, 2006

Insensitif by Accident

Pasti pernah denger married by accident kan ? Nah yang ini beda lagi, yang ini ketidaksengajaan yang membuat kita menjadi orang yang tidak sensitif. Setelah dipelajari dan diteliti, kayanya hampir semua orang pernah menjadi orang yang tidak sensitif/peka. Dan ada 3 tipe kenapa orang bisa menjadi insensitif atau tidak peka terhadap kondisi orang lain disekitarnya.

Tipe 1

Orang yang memang benar – benar tidak bermaksud untuk menjadi insensitif, tapi secara tidak sengaja menyinggung perasaan orang lain. Contoh, ini contoh yang paling sering saya temui. Seorang perempuan (misal si A) menceritakan tentang kondisi atau kejadian – kejadian yang dia alami bersama suaminya. Dan dia menceritakannya di hadapan teman perempuannya yang lain (misal si B) yang belum juga menikah walaupun usia sudah sangat cukup. Si A sebenarnya sama sekali tidak bermaksud untuk insensitif atau tidak peka terhadap kondisi si B yang sedang “menanti”, dengan menceritakan cerita – cerita tentang suaminya. Tapi itu hal hampir tidak bisa dihindari, karena sehari – hari si A memang hidup bersama suaminya,dan kejadian apapun yang dia alami hampir pasti berhubungan dengan suaminya. Oleh karena itu, walaupun si A sebenarnya hanya sekedar menceritakan kejadian yang dia alami tanpa bermaksud menyinggung soal pasangan hidup, tapi tanpa sengaja dia tetap menyebut – nyebut suaminya dihadapan si B.

Tipe 2

Orang yang sebenarnya tidak bermaksud untuk menjadi insensitif, tapi kondisi atau situasi yang sedang dialaminya terkadang membuat dia menjadi tidak peka terhadap kondisi orang lain di sekitarnya. Contoh, ini contoh yang paling sering saya alami. Seorang perempuan (misal si A) dia baru saja dinyatakan positif hamil oleh dokter. Dan sangking gembiranya dia dengan kondisinya, seluruh pikirannya terkonsentrasi pada hal itu. Sehingga apa yang dibicarakannya sehari – hari pun tidak jauh dari topik itu, karena hanya itu yang ada dalam pikirannya. Dan sangking gembiranya pula dia terus menerus menceritakan seputar kehamilannya pada teman nya (misal si B). Padahal si B ini adalah seorang istri yang sudah cukup lama menikah tapi belum juga dikaruniai seorang anak. Si A mungkin tidak bermaksud untuk insensitif dengan terus menceritakan kehamilannya pada si B, tapi karena hampir seluruh pikirannya terkonsentrasi pada hal itu, dan semua lintasan dalam kepalanya selalu tentang hal itu, maka yang keluar dan menjadi bahan perbincangannya dengan si B yah hanya seputar itu. Dan dia lupa bahwa somehow, semua yang dia ceritakan seputar kehamilannya telah sedikit menyinggung perasaan si B.

Tipe 3
Orang yang memang benar – benar tidak sensitif, dan tidak peka terhadap kondisi orang lain. Yang dia pikirkan hanya dirinya sendiri, apa yang dia alami, apa yang dia rasakan tanpa pernah memikirkan orang lain yang ada di sekitarnya. Ini yang ga bener. Udah ga usah dibahas deh.

Wednesday, November 01, 2006

Risalah Hati

“Adeuu .. meni mesra euy … meni pake sayang – sayangan segala. Terus kemana – mana teh gandengan tangan.“

Tidak ada komentar yang terlontar dari mulut saya. Hanya sekedar lirikan dan senyuman. Mungkin itu yang orang lihat sekarang, seandainya mereka tahu apa yang sudah saya lalui beberapa bulan kebelakang sebelum Allah mempertemukan saya dengan belahan hati.

Bagi kami, saya dan suami saya, cinta bukanlah perasaan picisan yang mudah sekali diumbar kepada setiap orang, itulah yang kami pahami. Cinta yang kami rasakan saat ini diawali dengan perjalanan panjang. Perjalanan panjang menjaga kehormatan dalam keimanan, memelihara kesabaran, dan mengasah keikhlasan. Sampai akhirnya Allah pertemukan kami, dalam ridha-Nya, semoga.

Bohong kalau saya bilang bahwa sebelumnya tidak pernah terbersit keinginan untuk mengambil jalan pintas. Apalagi ketika kesempatan ada di depan mata, yang perlu saya lakukan hanyalah memanfaatkannya. Mengikuti hawa nafsu, membebaskan hati, membiarkannya menari – nari tanpa terkendali. Tapi bukan itu yang saya mau, yang saya mau adalah cinta yang suci, yang saya dapatkan tanpa harus mempertaruhkan keimanan. Segala puji bagi Allah yang memelihara kami, sampai akhirnya Allah mempertemukan saya dan suami saya.

Mesra, mungkin itu yang orang lihat sekarang. Dan semoga, itu pula yang orang lihat dari kami selama berpuluh – puluh tahun mendatang. Saling mencintai hanya karena Allah semata. Karena dengan niat itu lah kami mengawali perjalanan cinta ini.

Bohong kalau saya bilang tidak pernah ada ujian atas cinta ini. Hanya yang berhenti bernafas sajalah yang berhenti diuji. Setahun sudah perjalanan cinta kami, dan rasanya semua sudah kami lalui. Canda, senyum, tawa, sedih, tangis, bahkan amarah. Tapi semua itu kami lalui dengan terus mengingat bahwa kami benar – benar saling mencintai. Saya mencintai suami saya walaupun semua kekurangan nya ada di hadapan mata saya, walaupun semua kesedihan dan kekesalan yang dia hadirkan di hati ini dengan tanpa sengaja. Dan saya yakin, begitu juga dengan dia.

Kami sudah dipertemukan oleh Allah, dan Allah lah yang sudah menganugrahi cinta ini. Dengan mengingat Allah lah kami memelihara cinta ini. Bagi kami, saya dan suami saya, cinta bukanlah perasaan picisan yang mudah sekali diumbar kepada setiap orang, itulah yang kami pahami. Kami mengawali perjalanan cinta ini dengan penuh kesadaran, bahwa ketika cinta hadir, maka beban dan tanggung jawab pun turut hadir bersamanya. Tidak seperti cinta – cinta dalam novel murahan yang selalu indah dan berakhir bahagia. Ada tanggung jawab yang hadir bersama cinta, tanggung jawab dihadapan Sang pemberi cinta, Allah SWT.

Surat Cinta Bagi Para Pejuang

Ketika perjalanan da’wah kita mengalami rintangan maka berbahagialah, karena itu menandakan bahwa insya Allah kita memang berada di jalannya para Rasul dan salafush shalih. Ujian, rintangan, dan kendala memang sunnatullah da’wah. Kesulitan memang tidak akan bisa dihindarkan dari jalan da’wah dan para da’i nya.

Bagaimana cara kita mengatasi kesulitan, itulah yang cermin dari keimanan dan pemahaman kita. Jika kita memiliki pemahaman yang kuat, syumul dan tidak tergoyahkan, maka sejak awal seharusnya kita memahami bahwa ketika kaki kita menapak di jalan da’wah maka ketika itulah kesulitan menjelang dihadapan kita. Pemahaman seperti itu akan membuat kita bersiap siaga. Dan tidak kemudian patah arang dengan kesulitan yang menghadang.

“Saya sudah tidak berselera lagi”
Kalimat itu rasanya naif sekali untuk dijadikan sebuah alasan pengunduran diri dari sebuah amanah da’wah. Memangnya sejak kapan da’wah menyesuaikan diri dengan selera kita ? Memangnya sejak kapan da’wah memiliki kaitan dengan selera kita ?

Ikhwah fillah, sesulit apapun rintangan yang kita hadapi, baik dalam perjalanan da’wah kita di sini, maupun dalam perjalanan da’wah secara keseluruhan, saya yakin kesulitan itu belum mendekati kesulitan yang dihadapi oleh para Rasul terdahulu, bahkan belum mendekati kesulitan yang dihadapi oleh generasi sahabat setelah itu. Kalaulah kesulitan ini sudah membuat kita “kehilangan selera”, maka layakkah kita menyebut diri kita sendiri da’i?

Perjalanan da’wah tidak akan pernah berhenti, karena Allah yang menjamin keberlangsungannya. Sekarang pilihan ada pada kita, apakah kita akan ikut berjalan bersamanya walau dengan langkah tertatih sekalipun, atau kita memilih untuk menjadi orang biasa saja yang menonton pertandingan dari luar pagar.

Semoga rahmat dan hidayah Allah menaungi kita semua agar langkah kaki kita tidak akan berhenti sampai di sini. Langkah kaki kita tidak akan berhenti baik sekarang maupun nanti, sampai akhirnya nyawa terpisah dari raga ini.
Teruntuk mujahidah - mujahidah seperjuangan, mari terus melangkah ...

Monday, October 30, 2006

Kebahagiaan

Perasaan sayang yang kita miliki terhadap orang lain, entah itu orang tua, suami, anak, sahabat, atau siapa pun, membuat kita ingin selalu membahagiakan mereka. Rasanya ingin selalu bisa menghadirkan senyuman di wajah mereka.
Sayang nya diri ini begitu lemah, dan begitu banyak kekhilafan. Ada begitu banyak harapan mereka, orang - orang yang mencintai kita, yang rasanya tidak mampu kita wujudkan. Ada begitu banyak kelemahan dan kekhilafan kita yang terkadang menorehkan kesedihan di hati mereka.
Seandainya mereka tahu, bahwa hati kita hancur saat mereka meneteskan air mata karena kita. Seandainya mereka tahu, bahwa hati kita tersayat ketika mereka tersakiti, seandainya mereka tahu bahwa kita lah orang pertama yang meneteskan air mata ketika mereka bersedih.
Subhanallah, memang diri ini begitu lemah. Hanya mampu mengangkat kedua tangan, hanya mampu melantunkan seuntai do'a kepada Yang Maha Pemilik segala sesuatu.
Ya Allah, berikanlah hiburan untuk kesedihan mereka dan berikanlah pengganti yang jauh lebih baik bagi mereka untuk semua harapan mereka yang belum mampu hamba wujudkan.
To every one in my mind right now, May Allah shower you with His love, for the love that you shower me ...

Tertatih ...

Dan tertatih menjalani .. segala kehendak-Mu ya Rabbi ...
Ku berserah .. ku berpasrah .. Hanya pada-Mu ya Rabbi ..

The previous song lyrics might be the most appropriate description of how I feel now.
Tertatih …

I do belive that Allah has created the best path of life for every one of us. And I do believe that Allah is the mercyfull and He won’t abandon us. But I’m sure that every one must have their momments, when they felt a little bit tired or a little bit confused of what they are facing in life.

The gap between our hope and reality, the difference between what we expect and what God has given us, our life planning that sometimes don’t get inline with things that happened in our life, things that happened in our life that we could not comprehend, all of that must have decrease our patience somehow.

Tertatih …
I guess that’s the right word. Regardless all the tiredness, all the sadness, we still have to walk on the path of life that God has created. Still have to hold on to our faith, that somehow,someway, this is the best path of life for us. Still have to belive that tears are not forever, that the morning sun will always smile at us after a frighten dark, that the rainbow will comes after rain.

With all the faith, all the strength, and all the patience I have left, I wish I could still see all the things in life from an entire point of view, from all side. Including the bright side .. :-)

Friday, September 15, 2006

my birthday

My first birthday as a married woman, as a wife ...

Banyak sekali kejutan. Kejutan dari ibu, bapak, dari kakak dan adik, my friends, dan untuk pertama kali nya menerima kejutan dari suami tersayang juga dari ibu mertua.

Banyak sekali yang patut disyukuri. Allah sudah memberikan begitu banyak nikmat. Dari tahun ke tahun selalu ada yang baru.

Banyak sekali yang hilang. Waktu terus berjalan, tapi belum banyak yang bisa dihasilkan. Belum banyak prestasi yang sudah dicapai. Baik itu prestasi utk diri sendiri, prestasi utk ummat, dan sekarang, prestasi utk keluarga baru yg sedang dirintis. Ada planning - planning yang dihadang kegagalan, ada langkah - langkah yang belum dirumuskan, dan masih ada kebekuan dan kemalasan yang masih belum juga terpecahkan.

Semoga menjadi lebih baik di tahun mendatang ... (ayo dong upi .......)