Daisypath Anniversary tickers

Thursday, June 16, 2005

trying to figure out ......

Kalau orang - orang yang kita sayangi boleh berhenti menjadi diri mereka yang dulu, bolehkah kita berhenti menyayangi mereka yang sekarang ?

.......................................................................................................

komentar pertama :
Bisakah secepat itu menghentikan rasa sayang kita terhadap seseorang...? menurut saya, jawabannya 'tergantung'. iya engga sih teh? tergantung perubahan seperti apa.. kalo perubahan yang memang mengharuskan kita (krn syari'at) membenci, ya tidak ada pilihan lain bukan?

komentar kedua :
Sayangilah teman kita dengan sejatinya, jangan hanya karena apa yang nampak darinya. selama kita dan dirinya masih berada di jalanNya maka cintaNya akan tetap menaungi.
Bersabarlah! Karena perubahan itu pasti.Begitupun saudara kita, tak selamanya dia sama.
Jadilah seperti air yang kan meliuk dengan indah bahkan diantara batuan yang kasar dan keras.

komentar ketiga :
sayang itu gak terbatas bagaimana dirinya, sama halnya sebuah pertanyaan, apakah kau mau berhenti disayangi orang?

komentar upi :
Perubahan adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa dihindari. Sifat, prilaku, pola pikir dan kecenderungan kita berubah. Dan itu pula yang terjadi kepada orang – orang di sekelilingi kita yang kita sayangi. Kadang perubahan itu memang terjadi tanpa kita sadari, sampai tiba - tiba kita merasa asing dengan mereka. Sampai tiba – tiba tercipta jurang pemisah yang begitu besar antara kita dan mereka.

Solusi termudah adalah berhenti menyayangi. Meninggalkan orang – orang yang pernah kita sayangi dan pergi mencari dunia baru dengan orang – orang yang baru yang membuat kita lebih nyaman berada di tengah – tengah nya.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah semudah itu kita berhenti menyayangi seseorang? Lalu bagaimana jika kita berada dalam posisi yang “ditinggalkan” ? Jika teman – teman kita yang kemudian pergi karena mereka merasa kita telah berubah sedemikian rupa sehingga mereka merasa asing dan tidak nyaman berada di sekeliling kita, bagaimana perasaan kita ?

Ternyata tidak semudah itu kita berhenti menyayangi seseorang. Apalagi jika rasa sayang dan cinta itu sejak awal dibangun diatas kecintaan kita kepada Allah. Dan jika kita mengingat orang - orang yang selalu berada di samping kita, yang menyayangi kita, memahami kekurangan kita, baik dulu maupun sekarang, ternyata mereka pun tidak pernah berhenti menyayangi kita walaupun kita terus berubah.

Thursday, June 09, 2005

Missing

Memiliki teman sungguh menyenangkan, dan masing-masing dari mereka pastinya meninggalkan bekas tersendiri dalam benak kita. Terhadap seorang teman dekat, kita mungkin berpikir bahwa senang sekali bila kebersamaan dengannya dapat terjaga sampai kapanpun. Namun kehidupan menjalankan skenario yang seringkali tak terduga. Kita tak akan pernah menyangka, kapan kebersamaan itu akan ternoda bahkan rusak oleh sesuatu yang menggangu dari luar, ataupun yang timbul dari dalam diri masing-masing. Atau perpisahan harus terjadi oleh sebab lainnya.

~ taken from www.eramuslim.com ~


All of the sudden, I miss my friends. All of my close friends I went to high school with. And all of my close friends whom I went to college with. It seem that they're so far away. Some are moving to another city which is why I hardly ever meet them again. Others are just living in a whole different world even if I can still see them with my own eyes.

Baju Yang Sama

“ Rabu kemaren upi pake baju yang ini juga kan ? “
Saya terdiam dan untuk beberapa saat memperhatikan jilbab, baju serta kerudung yang saya kenakan.
“ Iya yah ? “
Ternyata tanpa saya sadari hampir setiap rabu saya memakai baju yang sama. Dan memang selalu seperti itu. Semua baju yang saya kenakan minggu ini, hampir pasti akan menempel kembali di badan saya minggu depan. Bukan karena saya senang memakainya, tapi memang karena tidak ada pilihan lain.

Penampilan bagi seorang muslim memang menjadi salah satu indikasi keimanannya. Karena Rasulullah sendiri mengatakan bahwa kebersihan itu adalah sebagian daripada iman. Oleh karena itu kebersihan diri kita yang terlihat dari penampilan kita juga merupakan bagian dari iman. Rasulullah pun menempatkan keindahan sebagai salah satu hal yang disukainya, sehingga keindahan penampilan kita juga memang bukan sesuatu yang sepele. Apalagi bagi seseorang yang mengazzamkan diri utk menjadi seorang da’i. Penampilan adalah salah satu alat untuk mencapai keberhasilan misinya. Don’t judge a book by it’s cover, begitu kata orang. Tapi kita juga tidak bisa menafikan bahwa cover yang menarik akan menstimulus kita untuk melihat isinya.

Saya memahami itu dan insya Allah berusaha mengamalkannya. Saya termasuk penentang para aktivis muslim yang suka meng-adudomba-kan warna. Misalnya dengan memaksakan jilbab merah ketemu dengan baju kuning. Atau rok berwarna ungu menyala berdampingan dengan atasan hijau. Dan saya juga termasuk pemberantas tindakan “crime against fashion” (meminjam istilahnya Oprah Winfrey) yang dilakukan oleh kalangan teman – teman terdekat.

Tapi saya rasa prinsip menjaga penampilan tidak ada hubungannya dengan mengkoleksi busana. Tidak ada hubungannya dengan memiliki 1 jilbab untuk setiap warna yang ada. Dan tidak ada hubungannya dengan membeli setiap model baju keluaran terbaru. Saya pernah terbingung – bingung ketika memperhatikan penampilan seorang teman. Satu hari saya melihat beliau dengan rok berwarna hijau, yang saya tahu umurnya pasti tidak lebih dari beberapa bulan. Kemudian beberapa minggu kemudian saya melihat beliau dengan rok biru muda, yang saya tau dulu beliau tidak punya rok berwarna itu. Kemudian beberapa waktu berselang saya bertemu lagi dengan beliau ketika beliau mengenakan atasan berwarna pink yang itu juga termasuk kategori baju baru karena umurnya baru beberapa minggu. Dan beberapa hari setelah itu saya bertemu lagi dengan beliau yang mengenakan kemeja putih bergaris – garis. Itu juga baru. Tiba – tiba terlintas dalam benak saya, emang beliau itu badannya ada berapa yah ? Ko’ hobi sekali beli baju. Bahkan kalau dihitung – hitung, beliau membeli baju hampir satu bulan sekali. (Wah… kalo infak nya berapa bulan sekali yah :D )

Fenomena ini memang mudah sekali ditemukan dikalangan akhwat / wanita pada umumnya. Bila godaaan terberat bagi seorang pria adalah wanita, maka godaan terberat bagi seorang wanita adalah harta. Pernah juga saya dikejutkan oleh komentar seorang akhwat, “kayanya seru yah kalo punya koleksi kain batik.” (Haahhhh ??) Betapa mahalnya harga yang harus dibayar untuk memenuhi kebutuhan syahwat ini terhadap sesuatu yang indah.

Sulit memang mencontoh kesederhanaan seorang Umar bin Khattab. Yang dengan jubah sederhananya beliau mampu “mengguncang dunia”. Bahkan ketika suatu hari beliau mengenakan jubah yang terlihat lebih bagus dari jubah yang biasa beliau kenakan, salah seorang rakyatnya memberanikan diri untuk menegur beliau karena melihat itu adalah fenomena yang tidak biasa. Dan jawaban Umar terhadap teguran itu pun tidak kalah luar biasa, “Ini adalah jubah pemberian anak ku Abdullah”, begitu jawabnya.

Dan juga memang tidak mudah mencontoh sifat qona’ah seorang Abu Bakar. Jangankan memikirkan trend fashion masa kini, beliau bahkan tidak segan – segan menyerahkan nasib keluarganya pada Allah ketika beliau menginfakan seluruh hartanya.

Tapi seharusnya itu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Karena memang harus diakui, kesenangan kita dalam berlebihan terhadap harta tidak akan pernah ada batasnya. Kecuali kita sendiri yang tentukan batas itu dan menjalaninya dengan istiqomah. Genggamlah harta itu ditangan kita, tapi jangan biarkan ia merajai hati kita. Harta di dunia hanyalah sebuah alat untuk mencapai keridhaan Allah. Dan harta itu juga hanya sebagai perantara kita untuk menggengam harta yang sesungguhnya di sisi Allah.

“ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” [Q.S Ali Imran:14]

“ Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” [Q. S. Al Baqarah : 265]

Walahua’lam bish shawab

Wednesday, June 01, 2005

Bila Diam, Salju Tak Kan Menyingkir

Alam bawah sadar saya melayang selama beberapa menit setelah saya membaca profil Nelson Tansu, professor termuda di Amerika yang berkebangsaan Indonesia. Pada usia yang sangat muda, 26 tahun, beliau sudah menjadi assistant professor dan juga fisikawan spesialis semikonduktor ternama di negri paman sam itu.

Membaca profil beliau mengingatkan saya tentang mimpi saya. Bukan, bukan impian utk menjadi seorang assistant atau asociate professor, bukan juga mimpi utk menjadi seorang fisikawan ternama. Tapi mimpi utk menjadi seorang yang unggul dalam satu bidang keilmuan. Mimpi utk mengembangkan potensi sedemikian rupa sehingga saya bisa memberi banyak kontribusi utk dunia. Mimpi utk menjadi "seseorang" yang berarti dan tidak sekedar menjadi orang biasa. Mimpi yang mungkin sampai detik ini belum secara optimal diusahakan perwujudannya.

Bila diam salju tak kan menyingkir, tapi bila kapal itu maju, sang salju pun membiarkannya berlalu.

Rasanya saya sedang berada di atas sebuah kapal yang dikelilingi oleh genangan salju. Ada sebuah ketakutan besar untuk melaju. Ketakutan bahwa salju - salju itu akan menghambat laju kapal ini. Bahkan genangan salju itu membuat saya hampir saja kehilangan arah dan membiarkan kapal terombang - ambing di lautan tanpa ada usaha utk mengendalikannya. Padahal kalau saja saya sedikit berusaha, mengambil alih kendali kapal, mengatur strategi dan bergerak maju, maka salju itu pun akan membiarkan kapal ini berlalu.

Saya memiliki banyak mimpi, saya punya banyak keinginan, tapi rasanya sampai saat ini belum ada usaha yang cukup optimal yang saya lakukan untuk mewujudkannya. Saya bahkan tidak yakin langkah besar apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Walaupun saya tahu bahwa pintu - pintu kemudahan tidak begitu saja Allah bukakan tanpa ikhtiar yang kita usahakan. Salju - salju penghambat yang ada di sekeliling saya tidak akan begitu saja menghilang jika saya tidak berusaha melangkah maju dan menyingkirkannya. Tapi tetap saja, saya masih terdiam ........


Bila diam salju tak kan menyingkir, tapi bila kapal itu maju, sang salju pun membiarkannya berlalu.

Thursday, May 26, 2005

Barangkali Kita Penyebabnya [1]

Mohon ma'af buat para pembaca blog yang udah aga bosen dengan tema pernikahan. Tapi tulisan ini bagus sekali. Dan insya Allah bisa memberikan pencerahan utk para pembacanya.
-----------------------------------------------------------------------------------
Barangkali, Kitalah Penyebabnya

oleh Muhammad Fauzail Adhim

Menjelang tengah malam, seorang ikhwan mengirim SMS kepada saya. Dia seorang aktivis yang amat banyak menghabiskan waktunya untuk menyebarkan kebaikan. Bila berbicara dengannya, kesan yang tampak adalah semangat yang besar di dadannya untuk melakukan perbaikan. Kalau saat ini yang mampu dilakukan masih amat kecil, tak apa-apa. Sebab perubahan yang besar tak 'kan terjadi bila kita tidak mau memulai dari yang kecil. Tetapi kali ini, ia berkirim SMS bukan untuk berbagi semangat. Ia kirimkan SMS karena ingin meringankan beban yang hampir ada kerinduan yang semakin berambah untuk memiliki pendamping yang dapat menyayanginya sepenuh hati.

SMS ini mengingatkan saya pada beberapa kasus lainnya. Usia sudah melewati tiga puluh, tetapi belum juga ada tempat untuk menambatkan rindu. Seorang pria usia sekitar 40 tahun, memiliki karier yang cukup sukses, merasakan betapa sepinya hidup tanpa istri. Ingin menikah, tapi takut ! tak bisa mempergauli istrinya dengan baik. Sementara terus melajang merupakan siksaan yang nyaris tak dapat ditahan. Dulu ia ingin menikah, ketika keriernya belum seberapa. Tetapi niat itu dipendam dalam-dalam karena merasa belum mapan. Ia harus mengumpulkan dulu uang yang cukup banyak agar bisa menyenangkan istri. Ia lupa bahwa kebahagiaan itu letaknya pada jiwa yang lapang, hati yang tulus, niat yang bersih dan penerimaan yang hangat. Ia juga lupa bahwa jika ingin mendapatkan istri yang bersahaja dan menerima apa adanya, jalannya adalah dengan menata hati, memantapkan tujuan dan meluruskan niat. Bila engkau ingin mendapatkan suami yang bisa menjaga pandangan, tak bisa engkau meraihnya dengan, "Hai, cowok... Godain kita, dong. "

Saya teringat dengan sabda Nabi Saw. (tapi ini bukan tentang nikah). Beliau berkata, "Ruh itu seperti pasukan tentara yang berbaris." Bila bertemu dengan yang serupa dengannya, ia akan mudah mengenali, mudah juga bergabung dan bersatu. Ia tak bisa mendapatkan pendamping yang mencintaimu dengan sederhana, sementara engkau jadikan gemerlap kemapananmu sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin engkau jadikan gemerlap kemapananmu sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin engkau mendapatkan suami yang menerimamu sepenuh hati dan tidak ada cinta di hatinya kecuali kepadamu; sementara engkau berusaha meraihnya dengan menawarkan kencan sebelum terikat oleh pernikahan? Bagaimana mungkin engkau mendapatkan lelaki yang terjaga bila engkau mendekatinya dengan menggoda?

Di luar soal cara, kesulitan yang kita hadapi saat ingin meraih pernikahan yang diridhai tak jarang kerana kita sendiri mempersulitnya. Suatau saat seorang perempuan memerlukan perhatian dan kasih-sayang seorang suami, ia tidak mendapatkannya. Di saat ia merindukan hadirnya seorang anak yang ia kandung sendiri dengan rahimnya, tak ada suami yang menghampirinya. Padahal kecantikan telah ia miliki. Apalagi dengan penampilannya yang enak dipandang. Begitupun uang, tak ada lagi kekhawatiran pada dirinya. Jabatannya yang cukup mapan di perusahaan memungkinkan ia untuk membeli apa saja, kecuali kasih-sayang suami.

Kesempatan bukan tak pernah datang. Dulu, sudah beberapa kali ada yang mau serius dengannya, tetapi demi karir yang diimpikan, ia menolak semua ajakan serius. Kalau kemudian ada hubungan perasaan dengan seseorang, itu sebatas pacaran. Tak lebih. Sampai karier yang diimpikan tercapai; sampai ia tiba-tiba tersadar bahwa usianya sudah tidak terlalu muda lagi; sampai ia merasakan sepinya hidup tanpa suami, sementara orang-orang yang dulu bermaksud serius dengannya, sudah sibuk mengurusi anak-anak mereka. Sekarang, ketika kesadaran itu ada, mencari orang yang mau serius dengannya sangat sulit. Sama sulitnya menaklukkan hatinya ketika ia muda dulu.

Masih banyak cerita-cerita sedih semacam itu. Mereka menunda pernikahan di saat Allah memberi kemudahan. Mereka enggan melaksanakannya ketika Allah masih memberinya kesempatan karena alasan belum bisa menyelenggarakan walimah yang "wah". Mereka tetap mengelak, meski terus ada yang mendesak; baik lewat sindiran maupun dorongan yang terang-terangan. Meski ada kerinduan yang tak dapat diingkari, tetapi mereka menundanya karena masih ingin mengumpulkan biaya atau mengejar karier. Ada yang menampik "alasan karier" walau sebenarnya tak jauh berbeda. Seorang akhwat menunda nikah mesti ada yang mengkhitbah karena ingin meraih kesempatan kuliah S-2 ("Tahun depan kan belum tentu ada beasiswa"). Ia mendahulukan pra-sangka bahwa kesempatan kuliah S-2 tak akan datang dua kali, lalu mengorbankan pernikahan yang Rasullah Saw. Telah memperingatkan: "Apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk meminang) yang engkau ridha terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi." (HR. At-Ti! rmidzi dan Ahmad).

Saya tidak tahu apakah ini merupakan hukum sejarah yang digariskan oleh Allah. Ketika orang mempersulit apa yang dimudahkan oleh Allah, mereka akhirnya benar-benarmendapati keadaan yang sulit dan nyaris tak menemukan jalan keluarnya. Mereka menunda-nunda pernikahan tanpa ada alasan syar'i, dan akhirnya mereka benar-benar takut melangkah di saat hati sudah sangat menginginkannya. Atau ada yang sudah benar-benar gelisah, tetapi tak kunjung ada yang mau serius dengannya.

Kadangkala, lingkaran ketakutan itu terus belanjut. Bila di usia-usia dua puluh tahunan mereka menuda nikah karena takut dengan ekonominya yang belum mapan, di usia menjelang tiga puluh hingga sekitar tiga puluh lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki sering mengalami sindrom kemapanan (meski wanita juga banyak yang demikian, terutama mendekati usia 30 tahun). Mereka menginginkan pendamping dengan kriteria yang sulit dipenuhi. Seperti hukum kategori, semakin banyak ! kriteria semakin sedikit yang masuk kategori. Begitu pula dengan kriteria tentang jodoh, ketika kita menetapkan kriteria yang terlalu banyak, akhirnya bahkan tidak ada yang sesuai dengan keinginan kita. Sementara wanita yang sudah berusia sekitar 35 tahun, masalah mereka bukan soal kriteria, tetapi soal apakah ada orang yang mau menikah dengannya. Ketika usia 40-an, ketakutan yang dialami oleh laki-laki sudah berbeda lagi, kecuali bagi mereka yang tetap terjaga hatinya. Jika sebelumnya, banyak kriteria yang dipasang, pada usia 40-an muncul ketakutan apakah dapat mendampingi istri dengan baik. Lebih lebih ketika usia sudah beranjak mendekati 50 tahun, ada ketakutan lain yang mencekam. Ada kekhawatiran jangan-jangan di saat anak masih kecil, ia sudah tak sanggup lagi mencari nafkah. Atau ketika masalah nafkah tak merisaukan (karena tabungan yang melimpah), jangan-jangan ia sudah mati ketika anak-anak masih perlu banyak dinasehati. Bila tak ada iman di hati, ketakutan ini akhi! rnya melahirkan keputus-asaan.

Wallahu A'lam bishawab.

Barangkali Kita Sendiri Penyebabnya [2]

Ya... ya... ya..., kadang kita sendirilah penyebabnya, kita mempersulit apa yang telah Allah mudahkan, sehingga kita menghadapi kesulitan yang tak terbayangkan. Kita memperumit yang Ia sederhanakan, sehingga kita terbelit oleh kerumitan yang tak berujung. Kita menyombongkan atas apa yang tidak ada dalam kekuasaan kita, sehingga kita terpuruk dalam keluh-kesah yang berkepanjangan.

Maka, kalau kesulitan itu kita sendiri penyebabnya, beristighfarlah. Semoga Allah berkenan melapangkan jalan kita dan memudahkan urusan kita. Laa ilaaha illa Anta, subhanaKa inni kuntu minazh-zhalimin.

Berkenaan dengan sikap mempersulit, ada tingkat-tingkatannya. Seorang menolak untuk menikah boleh jadi karena matanya disilaukan oleh dunia, sementara agama ia tak mengerti. Belum sampai kepadanya pemahaman agama. Boleh jadi seorang menunda-nunda nikah karena yang datang kepadanya beda harakah, meskipun tak ada yang patut dicela dari agama dan akhlaknya. Boleh jadi ada di antara kita yang belum bisa meresapi keutamaan menyegerakan nikah, sehingga ia tak kunjung melakukannya. Boleh jadi pula ia sangat memahami benar pentingnya bersegera menikah, sudah ada kesiapan psikis maupun ilmu, telah datang kesempatan dari Allah, tetapi... sukunya berbeda, atau sebab-sebab lain yang sama sepelenya.

Ada Yang Tak Bisa Kita Ingkari

Kadang ada perasaan kepada seseorang. Seperti Mughits -seorang sahabat Nabi Saw.-kita selalu menguntit kemana pun Barirah melangkah. Mata kita mengawasi, hati kita mencari-cari dan telinga kita merasa indah setiap kali mendengar namanya. Perasaan itu begitu kuat bersemayan di dada. Bukan karena kita menenggelamkan diri dalam lautan perasaan, tetapi seperti kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengutip dari Al-Mada'iny, "Andaikan orang yang jatuh cinta boleh memilih, tentu aku tidak akan memilih jatuh cinta."

Perasaan ini kadang mengganggu kita, sehingga tak sanggup berpikir jernih lagi. Kadang membuat kita banyak berharap, sehingga mengabaikan setiap kali ada yang mau serius. Kita sibuk menanti -kadang sampai membuat badan kita kurus kering- sampai batas waktu yang kita sendiri tak berani menentukan. Kita merasa yakin bahwa dia jodoh kita, atau merasa bahwa jodoh kita harus dia, tetapi tak ada langkah-langkah pasti yang kita lakukan. Akibatnya, diri kita tersiksa oleh angan-angan.

Persoalannya, apakah yang mesti kita perbuat ketika rasa sayang itu ada? Inilah yang insya-Allah kita perbincangkan lebih mendalam pada makalah Masih Ada Tempat untuk Cinta. Selebihnya, kita cukupkan dulu pembicaraan itu sampai di sini.

Tuhan, Jangan Biarkan Aku Sendiri

Di atas semua itu, Allah bukakan pintu-pintu-Nya untuk kita. Ketuklah pertolongan-Nya dengan do'a. Di saat engkau merasa tak sanggup menanggung kesendirian, serulah Tuhanmu dengan penuh kesungguhan, "Tuhanku, jangan biarkan aku sendirian. Dan Engkau adalah sebaik-baik Warits." (QS. Al-Abiya': 89).

Rabbi, laa tadzarni fardan wa Anta khairul waritsin.

Ini sesungguhnya adalah do'a yang dipanjatkan oleh Nabi Zakariya untuk memohon keturunan kepada Allah Ta'ala. Ia memohon kepada Allah untuk menghapus kesendiriannya karena tak ada putra yang bisa menyejukkan mata.

Sebagaimana Nabi Zakariya, rasa sepi itu kita adukkan kepada Allah 'Azza wa Jalla semoga Ia hadirkan bagi kita seorang pendamping yang menenteramkan jiwa dan membahagiakan hati. Kita memohon kepada-Nya pendamping yang baik dari sisi-Nya. Kita memasrahkan kepada-Nya apa yang terbaik untuk kita.

Kapan do'a itu kita panjatkan? Kapan saja kita merasa gelisah oleh rasa sepi yang mencekam. Panjatkan do'a itu di saat kita merasa amat membutuhkan hadirnya seorang pendamping; saat hati kita dicekam oleh kesedihan karena tidak adanya teman sejati atau ketika jiwa dipenuhi kerinduan untuk menimang buah hati yang lucu. Panjatkan pula do'a saat hati merasa dekat dengan-Nya; saat dalam perjalan ketika Allahjadikan do'a mustajabah; dan saat-saat mustajabah lainnya.

Tuesday, May 17, 2005

A Huge Decision

Menikah memang bukan perkara mudah. Karena dia adalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Dan dia juga merupakan gerbang menuju dimensi yang sama sekali baru bagi seorang manusia.

Walaupun begitu Allah sebenarnya telah mempersiapkan begitu banyak pintu kemudahan untuk perkara ini. Mengawali segala sesuatunya dengan awal yang baik dan di ridhai oleh Allah adalah salah satu syarat dibukakannya pintu kemudahan itu. Dimulai dengan niat yang ikhlas dan orientasi yang benar. Karena keikhlasan hati dan tujuan yang benar adalah kunci kebahagiaan hidup berumah tangga.

Ikhlaskan niat, bahwa pernikahan adalah salah satu manifestasi keta'atan kita kepada Allah. Dan oleh karena itu, pernikahan yang akan diwujudkan adalah pernikahan di jalan Allah, pernikahan atas dasar komitmen terhadap da'wah, dan pernikahannya para pejuang. Bukan sekedar menikmati romantisme hidup yang dibingkai oleh cinta yang semu.

Luruskan orientasi bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita jika kita terus membujuk-Nya dengan ikhtiar dan do'a - do'a yang kita panjatkan. Luruskan orientasi kita bahwa jika kita berusaha menyempurnakan keimanan kita maka Allah akan mempertemukan kita dengan orang yang kualitas keimanannya pun sebanding dengan kita. Bahkan sebagai tambahannya, Allah sertakan pula ketenangan hati, kelapangan serta kemantapan dalam menerima pemberian terbaik dari Nya.

Syarat lain menuju terbukanya pintu kemudahan dalam pernikahan adalah tawakkal. jalani saja segala sesuatunya seperti yang Allah minta. Nabi mUsa pun tidak pernah bertanya ketika beliau diminta memukulkan tongkatnya ke laut merah. Sampai kemudian Allah menurunkan rahmat dan pertolongan-Nya.

Bagi yang belum menikah, jalani saja ikhtiar kita dalam mempersiapkan diri untuk menerima amanah besar itu. Biar Allah yang tentukan kapan saat yang tepat untuk kita menggenapkan separuh dien dan siapa orang yang nantinya akan kita jadikan imam dalam hal keta'atan kepada Allah, partner dalam da'wah menegakan kalimatullah serta sahabat untuk berbagi dan memperoleh ketenangan hati.

Bagi yang sudah / akan menikah dalam waktu dekat, jalani saja peran baru kita sebagai seorang istri dan seorang ibu seperti yang Allah mau. Biar Allah yang mengumpulkan kita dengan semua orang yang kita cintai dalam sebuah rumah yang telah kita bangun bersama pasangan kita di Jannah-Nya.

Wallahua'alam bish shawab

Insya Allah tidak bermaksud menggurui. Tulisan ini saya ambil dari berbagai sumber. Semoga bisa membantu memberikan pencerahan bagi semua yang sedang dalam proses mengambil keputusan besar itu.