Adikku,
Bayangkanlah sebuah rumah, sebagai simbol dari rumah tangga yang akan dibangun nanti. Di dalamnya akan ada seorang ikhwan. Ikhwan yang mungkin tidak seperti Rasulullah dalam kelembutan dan kearifan dalam mendidik istri. Ikhwan yang mungkin tidak setulus Abu Bakar dalam berkorban demi da'wah. Ikhwan yang mungkin tidak setangguh Umar bin Khattab dalam menjadi tameng bagi tegaknya panji - panji Islam. Dia hanya seorang ikhwan yang berusaha untuk menunaikan tugas nya sebagai seorang khalifah di bumi.
Tapi..kekurangannya akan mengingatkan kita bahwa kita bukan lah Khadijah dalam kesetiaan mendampingi seorang mujahid. Kita bukanlah Aisyah dalam kepiawaian dan kecerdasan dalam da'wah. Kita juga hanya seorang muslimah lengkap dengan kelebihan dan kekurangan kita yang seluruhnya dipersembahkan sebagai keta'atan kepada Allah.
Jatuh cintalah dan selamat menjalani cinta. Karena cinta yang dibingkai dengan kecintaan kepada-Nya merupakan berkah yang tak ternilai harganya.
Tapi juga jangan terlena dengan cinta. Karena cinta itu memiliki konsekuensi. Dia harus berbuah suatu kontribusi bagi tegaknya kalimat Allah. Karena dari cinta itu akan hadir batu bata - batu bata terbaik bagi bangunan da'wah.
Barokallahu laka wa baroka 'alaika wa jama'a baina kuma fii khair…
Syukurilah bahwa Allah telah menjaga kalian masing - masing hingga akhirnya dipertemukan dalam keridhoan - Nya. Tolong sampaikan kepada seorang ikhwan yang akan mendiami rumah itu nanti, bahwa kepadanyalah upi titipkan adik yang selama ini dan sampai kapan pun nanti akan selalu memiliki tempat di relung hati.
Selamat Menempuh Hidup Baru untuk Lia dan Nashrul
Teriring do'a dari upi.
Monday, January 10, 2005
Jalan-Nya ...
Setiap orang sudah ditentukan jalannya. Rezeki, jodoh, usia, semua sudah ada yang menentukannya. Dan tidak ada yang bisa merubah skenario Sang Penguasa semesta.
Hanya Dia yang paling tau mana jalan yang terbaik. Karena tabir - tabir yang membatasi kemampuan manusia membuat kita tidak diberkahi hak prerogatif untuk menilai mana yang terbaik untuk kita.
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
[2:216] Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Setiap orang punya jalan nya masing - masing. Dan setiap orang hidup dengan mengikuti jalan-Nya yang sudah Dia tentukan. Khawatir, sedih, takut, marah, atau apapun ekspresi emosi kita tidak akan membuat segala seusuatu nya berjalan hanya selalu seiring dengan apa yang kita inginkan.
Hanya dengan percaya bahwa setiap orang sudah ada yang mentukan rezekinya dan bahwa sang penentu adalah yang maha tau akan semua yang terbaik untuk nya, hanya dengan itulah kita akan lebih lapang dalam menerima segala sesuatu nya.
Oleh - oleh pulang bareng dengan rela, Jum'at 7 Januari 2004. Jazakillah khair ya La..
Hanya Dia yang paling tau mana jalan yang terbaik. Karena tabir - tabir yang membatasi kemampuan manusia membuat kita tidak diberkahi hak prerogatif untuk menilai mana yang terbaik untuk kita.
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
[2:216] Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Setiap orang punya jalan nya masing - masing. Dan setiap orang hidup dengan mengikuti jalan-Nya yang sudah Dia tentukan. Khawatir, sedih, takut, marah, atau apapun ekspresi emosi kita tidak akan membuat segala seusuatu nya berjalan hanya selalu seiring dengan apa yang kita inginkan.
Hanya dengan percaya bahwa setiap orang sudah ada yang mentukan rezekinya dan bahwa sang penentu adalah yang maha tau akan semua yang terbaik untuk nya, hanya dengan itulah kita akan lebih lapang dalam menerima segala sesuatu nya.
Oleh - oleh pulang bareng dengan rela, Jum'at 7 Januari 2004. Jazakillah khair ya La..
Thursday, January 06, 2005
Teriring Do'a dan Syukur Utk Semua Yang Allah Berkahi Selama Ini [2]
10 bulan kurang satu hari...
Selama itulah saya sudah berada di sini. Bekerja di tempat ini. Dan sepertinya, tidak lama lagi saya harus pergi.
Bukan keputusan yang ringan memang. Karena entah kenapa rasanya berat sekali untuk pergi. Bukan cuma karena bayang - bayang ketidakpastian secara finansial, tapi juga karena ketakutan akan kondisi yang nanti akan dihadapi selepasnya dari sini.
Banyak hal yang memang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk pergi. Tapi sejauh ini, pergi dari sini adalah keputusan yang rasanya cukup menenangkan hati.
Walaupun keberadaan disini pernah beberapa kali membuahkan duka. Walaupun berada disini membuat saya sempat kehilangan banyak hal yang sangat berharga. Walaupun ada di sini membuat saya kadang - kadang tidak mengenali diri saya sendiri.
Tapi..
Saya tetap mencoba mensyukuri semua yang telah Allah berikan selama ini. Termasuk keberadaan saya di sini. Karena, somehow, someway, Allah merancang semua ini sebagai skenario yang terbaik untuk saya. Pun ketika saya harus pergi, saya berdo'a semoga semua itu tidak terlepas dari rencana Allah dalam menentukan sesuatu yang terbaik untuk saya.
Semoga Allah memberikan kekuatan hati untuk tetap berbaik sangka kepada-Nya. Dan memberikan kejernihan mata hati untuk melihat hikmah dibalik segala sesuatu yang telah dan akan terjadi.
Teriring do'a dan syukur untuk semua yang telah Allah berkahi selama ini.
Selama itulah saya sudah berada di sini. Bekerja di tempat ini. Dan sepertinya, tidak lama lagi saya harus pergi.
Bukan keputusan yang ringan memang. Karena entah kenapa rasanya berat sekali untuk pergi. Bukan cuma karena bayang - bayang ketidakpastian secara finansial, tapi juga karena ketakutan akan kondisi yang nanti akan dihadapi selepasnya dari sini.
Banyak hal yang memang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk pergi. Tapi sejauh ini, pergi dari sini adalah keputusan yang rasanya cukup menenangkan hati.
Walaupun keberadaan disini pernah beberapa kali membuahkan duka. Walaupun berada disini membuat saya sempat kehilangan banyak hal yang sangat berharga. Walaupun ada di sini membuat saya kadang - kadang tidak mengenali diri saya sendiri.
Tapi..
Saya tetap mencoba mensyukuri semua yang telah Allah berikan selama ini. Termasuk keberadaan saya di sini. Karena, somehow, someway, Allah merancang semua ini sebagai skenario yang terbaik untuk saya. Pun ketika saya harus pergi, saya berdo'a semoga semua itu tidak terlepas dari rencana Allah dalam menentukan sesuatu yang terbaik untuk saya.
Semoga Allah memberikan kekuatan hati untuk tetap berbaik sangka kepada-Nya. Dan memberikan kejernihan mata hati untuk melihat hikmah dibalik segala sesuatu yang telah dan akan terjadi.
Teriring do'a dan syukur untuk semua yang telah Allah berkahi selama ini.
Teriring Do'a dan Syukur Utk Semua Yang Allah Berkahi Selama Ini [1]
Ada banyak hal yang terjadi dalam hidup kita yang kadang di luar dari perkiraan kita atau terjadi tanpa kita pahami alasannya. Tapi, kita sebagai muslim dibina untuk selalu berbaik sangka bahwa tidak ada sesuatu yg terjadi begitu saja atau yang biasa orang sebut dengan "kebetulan". Karena segala sesuatu nya pasti ada yang mengatur. Dan sang Maha pengatur telah memperhitungkan dengan sangat cermat dan perhitungan yang tidak mungkin salah sehingga semua hal dalam hidup ini terjadi sesuai dengan kehendak-Nya.
Tapi, kita selalu bisa melihat hikmah dibalik segala sesuatu...
Dulu ketika saya berjuang keras untuk menyelesaikan jenjang sarjana, ada banyak hal yang terjadi "di luar perhitungan" saya. Semula saya berharap untuk lulus bulan oktober, tapi Allah menakdirkan lain. Akhirnya kelulusan itu tertunda sampai bulan maret. Tapi, subhanallah, justru karena lulus di bulan maret, banyak hal yang terjadi yang pada akhirnya "merubah" jalan hidup saya.
3 Maret 2004. Hari pengambilan toga untuk calon wisudawan. Hari yang sama ketika saya bertemu dengan teman kuliah yang sebenarnya sudah lama sekali saya tidak pernah berhubungan lagi dengan beliau. Dan saat itu juga, tiba - tiba beliau meminta saya untuk menggantikan posisinya di sebuah lembaga penelitian, LPPM ITB. Subhanallah.
4 Maret 2004. Saya datang ke LPPM, dengan dandanan seadanya, dengan tanpa persiapan apapun karena merasa hari itu saya hanya datang mengunjungi teman saya tadi. Ternyata, tiba - tiba saya dipertemukan dengan pimpinan di sana. Kemudian di interview beberapa menit dan langsung di minta bekerja bahkan hari itu juga diajak berkeliling untuk berkenalan dengan yang lainnya. Masya Allah.
6 Maret 2004. Hari kelulusan. Hari ketika saya di wisuda. Dan saya lulus dengan menyandang status sebagai staf di sebuah lembaga penelitian. Status "sudah bekerja". Walaupun bukan status yang patut dibanggakan, tapi itu adalah sebuah status yang patut disyukuri. Mengingat banyak sekali teman - teman yang lulus dengan prestasi yang jauh lebih memuaskan dari saya, tapi mereka kesulitan untuk menata kehidupannya pasca lulus.
8 Maret 2004. Hari pertama bekerja. Hari ketika saya mulai mengenal kehidupan sebenarnya di luar kampus saya. Kehidupan yang ternyata mengandung permasalahan yang lebih kompleks, dan tantangan yang lebih berat. Hari itu saya mulai mengenal bagaimana pertarungan sebenarnya dalam mepertahankan sebuah ideologi, sebuah prinsip. Hari dimana saya mulai melihat dengan lebih jelas, kondisi kehidupan yang mungkin tidak pernah terbanyangkan sebelumnya. Hari dimana jalan kehidupan saya ...... berubah.
Dan semua rangkaian kejadian itu tidak terjadi begitu saja. Bukan karena kebetulan. Allah sudah dengan rapi merencanakannya. Mungkin kalau saya tidak bertemu dengan dosen pembimbing yang membuat saya menunda kelulusan saya, saya tidak akan bertemu dengan tanggal 3 maret yang "bersejarah". Mungkin kalau saya mengambil toga hari - hari sebelumnya, saya tidak akan bertemu dengan teman lama saya yang membawa saya ke "dunia kerja". Mungkin kalau teman saya tidak diterima di perusahaan lain, dia tidak akan menawarkan posisinya kepada saya dan saya tidak akan berada di sini sekarang. Dengan status saya yang sekarang.
Dalam perjalanan itu sebenarnya banyak hal yang saya tidak mengerti. Seperti kenapa dosen pembimbing saya rasanya "kurang adil", kenapa kelulusan saya tertunda, kenapa tiba - tiba saya ditawari pekerjaan, dan banyak hal lain yang menimbulkan tanda tanya. Tapi, memang Allah punya kuasa untuk menentukan segala sesuatunya. Dan memang tidak selamanya keterbatasan kita mampu menjangkau perhitungan - Nya. Yang jelas, ada banyak hikmah yang ada di balik setiap kejadian. Walaupun kadang tidak sejalannya rencana kita dan kemauan Allah membuahkan sedih dan kecewa, tapi pada akhirnya akan terbukti siapa yang paling tahu mana yang terbaik.
Teriring do'a dan syukur untuk semua yang Allah berkahi selama ini.
Wallahu'alam.
Tapi, kita selalu bisa melihat hikmah dibalik segala sesuatu...
Dulu ketika saya berjuang keras untuk menyelesaikan jenjang sarjana, ada banyak hal yang terjadi "di luar perhitungan" saya. Semula saya berharap untuk lulus bulan oktober, tapi Allah menakdirkan lain. Akhirnya kelulusan itu tertunda sampai bulan maret. Tapi, subhanallah, justru karena lulus di bulan maret, banyak hal yang terjadi yang pada akhirnya "merubah" jalan hidup saya.
3 Maret 2004. Hari pengambilan toga untuk calon wisudawan. Hari yang sama ketika saya bertemu dengan teman kuliah yang sebenarnya sudah lama sekali saya tidak pernah berhubungan lagi dengan beliau. Dan saat itu juga, tiba - tiba beliau meminta saya untuk menggantikan posisinya di sebuah lembaga penelitian, LPPM ITB. Subhanallah.
4 Maret 2004. Saya datang ke LPPM, dengan dandanan seadanya, dengan tanpa persiapan apapun karena merasa hari itu saya hanya datang mengunjungi teman saya tadi. Ternyata, tiba - tiba saya dipertemukan dengan pimpinan di sana. Kemudian di interview beberapa menit dan langsung di minta bekerja bahkan hari itu juga diajak berkeliling untuk berkenalan dengan yang lainnya. Masya Allah.
6 Maret 2004. Hari kelulusan. Hari ketika saya di wisuda. Dan saya lulus dengan menyandang status sebagai staf di sebuah lembaga penelitian. Status "sudah bekerja". Walaupun bukan status yang patut dibanggakan, tapi itu adalah sebuah status yang patut disyukuri. Mengingat banyak sekali teman - teman yang lulus dengan prestasi yang jauh lebih memuaskan dari saya, tapi mereka kesulitan untuk menata kehidupannya pasca lulus.
8 Maret 2004. Hari pertama bekerja. Hari ketika saya mulai mengenal kehidupan sebenarnya di luar kampus saya. Kehidupan yang ternyata mengandung permasalahan yang lebih kompleks, dan tantangan yang lebih berat. Hari itu saya mulai mengenal bagaimana pertarungan sebenarnya dalam mepertahankan sebuah ideologi, sebuah prinsip. Hari dimana saya mulai melihat dengan lebih jelas, kondisi kehidupan yang mungkin tidak pernah terbanyangkan sebelumnya. Hari dimana jalan kehidupan saya ...... berubah.
Dan semua rangkaian kejadian itu tidak terjadi begitu saja. Bukan karena kebetulan. Allah sudah dengan rapi merencanakannya. Mungkin kalau saya tidak bertemu dengan dosen pembimbing yang membuat saya menunda kelulusan saya, saya tidak akan bertemu dengan tanggal 3 maret yang "bersejarah". Mungkin kalau saya mengambil toga hari - hari sebelumnya, saya tidak akan bertemu dengan teman lama saya yang membawa saya ke "dunia kerja". Mungkin kalau teman saya tidak diterima di perusahaan lain, dia tidak akan menawarkan posisinya kepada saya dan saya tidak akan berada di sini sekarang. Dengan status saya yang sekarang.
Dalam perjalanan itu sebenarnya banyak hal yang saya tidak mengerti. Seperti kenapa dosen pembimbing saya rasanya "kurang adil", kenapa kelulusan saya tertunda, kenapa tiba - tiba saya ditawari pekerjaan, dan banyak hal lain yang menimbulkan tanda tanya. Tapi, memang Allah punya kuasa untuk menentukan segala sesuatunya. Dan memang tidak selamanya keterbatasan kita mampu menjangkau perhitungan - Nya. Yang jelas, ada banyak hikmah yang ada di balik setiap kejadian. Walaupun kadang tidak sejalannya rencana kita dan kemauan Allah membuahkan sedih dan kecewa, tapi pada akhirnya akan terbukti siapa yang paling tahu mana yang terbaik.
Teriring do'a dan syukur untuk semua yang Allah berkahi selama ini.
Wallahu'alam.
Tuesday, January 04, 2005
Biarkan Saja Orang Bertanya .....
Sekian banyak pertanyaan tentang kapan akan menikah, membuat saya banyak berpikir. Pun ketika melihat bahwa masih banyak muslimah2 lain di usia yang sudah sangat pantas untuk menikah, tapi memang belum dikaruniakan Allah seorang pendamping hidup.
Mereka tetap berkarya. Yah.. mereka tetap menjadi orang - orang "besar" di lingkungan aktivitasnya.
Hanya orang - orang kerdil yang sibuk mengurusi urusan dirinya sendiri. Kalaupun memang belum menikah, itu bukan alasan untuk tidak menjadi pahlawan besar. Saya dibina dengan sebuah prinsip bahwa hidup ini bukan untuk kita sendiri. Kita tidak punya cukup waktu untuk mengasihani, meratapi, dan sibuk mengurusi diri sendiri. Termasuk dalam urusan menikah.
Ada banyak peluang - peluang sejarah yang terbentang di hadapan mata kita, dan itu semua akan terlewat kan begitu saja jika kita tidak cukup lihai untuk menangkapnya. Kita akan berubah menjadi "biasa", ketika itu semua berlalu begitu saja tanpa peranan kita di dalamnya. Kita akan berubah menjadi... kerdil.
Hmmhhhh......
Saatnya bangkit. Biarkan orang bertanya. Karena yang bertanya adalah yang tidak cukup pintar untuk mengetahui bahwa kita tidak punya jawabannya. Saatnya menangkap peluang - peluang sejarah dihadapan mata kita. Saatnya mengukir prestasi - prestasi luar biasa dalam hidup kita. Belum dikaruniai pasangan bukan lah suatu kekurangan. Karena sekedar menikah pun bukanlah suatu prestasi yang patut dibanggakan.
Mereka tetap berkarya. Yah.. mereka tetap menjadi orang - orang "besar" di lingkungan aktivitasnya.
Hanya orang - orang kerdil yang sibuk mengurusi urusan dirinya sendiri. Kalaupun memang belum menikah, itu bukan alasan untuk tidak menjadi pahlawan besar. Saya dibina dengan sebuah prinsip bahwa hidup ini bukan untuk kita sendiri. Kita tidak punya cukup waktu untuk mengasihani, meratapi, dan sibuk mengurusi diri sendiri. Termasuk dalam urusan menikah.
Ada banyak peluang - peluang sejarah yang terbentang di hadapan mata kita, dan itu semua akan terlewat kan begitu saja jika kita tidak cukup lihai untuk menangkapnya. Kita akan berubah menjadi "biasa", ketika itu semua berlalu begitu saja tanpa peranan kita di dalamnya. Kita akan berubah menjadi... kerdil.
Hmmhhhh......
Saatnya bangkit. Biarkan orang bertanya. Karena yang bertanya adalah yang tidak cukup pintar untuk mengetahui bahwa kita tidak punya jawabannya. Saatnya menangkap peluang - peluang sejarah dihadapan mata kita. Saatnya mengukir prestasi - prestasi luar biasa dalam hidup kita. Belum dikaruniai pasangan bukan lah suatu kekurangan. Karena sekedar menikah pun bukanlah suatu prestasi yang patut dibanggakan.
Kenapa Orang Harus Bertanya ??
"Kapan atuh mau nyusul ?? Yang laen kan udah pada duluan. Malah kesusul ama adik2 angkatan tuh nikahnya."
Rasanya kalimat - kalimat senada seperti itu sudah mulai sering sekali hinggap di pendengaran saya. Apalagi memasuki usia yang hampir seperempat abad ini. Sayangnya saya sendiri tidak tahu jawabannya. Seandainya saya tau, saya akan dengan mudah menjawab : "ntar bulan depan", atau "ntar deh setaun lagi", atau jawaban2 lain yang bisa memuaskan rasa ingin tau penanya. Tapi..itu kan urusan Sang Pencipta. Tidak ada yang tahu kapan seorang pendamping hidup itu akan datang dan melengkapi separuh dari dien kita.
Dan sekarang, rasa terusik itu pun mulai menyelinap di suatu tempat di sudut perasaan saya. Kenapa orang harus bertanya ? Tidakkah mereka tau bahwa saya tidak punya jawabannya? Tidakkah mereka tau bahwa saya tidak punya kendali penuh untuk menentukan kapan saya akan menikah ?
Rasanya kalimat - kalimat senada seperti itu sudah mulai sering sekali hinggap di pendengaran saya. Apalagi memasuki usia yang hampir seperempat abad ini. Sayangnya saya sendiri tidak tahu jawabannya. Seandainya saya tau, saya akan dengan mudah menjawab : "ntar bulan depan", atau "ntar deh setaun lagi", atau jawaban2 lain yang bisa memuaskan rasa ingin tau penanya. Tapi..itu kan urusan Sang Pencipta. Tidak ada yang tahu kapan seorang pendamping hidup itu akan datang dan melengkapi separuh dari dien kita.
Dan sekarang, rasa terusik itu pun mulai menyelinap di suatu tempat di sudut perasaan saya. Kenapa orang harus bertanya ? Tidakkah mereka tau bahwa saya tidak punya jawabannya? Tidakkah mereka tau bahwa saya tidak punya kendali penuh untuk menentukan kapan saya akan menikah ?
Monday, January 03, 2005
Akhir Perjalanan
Kawan, pernahkah kau merasakan sebuah penderitaan yang sangat ? Barangkali rasanya seperti mau mati saja, ya ! Seperti apa sih rasanya ditinggal oleh orang yang kita cintai ? Mungkin kita akan meratap ber hari - hari, mengenang masa - masa bersamanya, dan berharap semua yang telah berlalu kembali lagi, berangan andai ia tak pernah pergi.
Kawan, bagaimana rasanya diliputi benci dan kemarahan ? Seperti mau meledak dada dan kepala? Inginya memuntahkan segala kekesalan sepuas - puas nya.
Kawan, pasti kita pernah gagal. Saat itu rasanya dunia sudah tertutup bagi kita. Tak ada lagi semangat apalagi tekad. Kita pun mandeg, malas untuk bergerak lagi.
Kawan, semua kita pernah berbuat dosa. Sering kita sadar dan menyesal, tapi kita tak sanggup keluar daripadanya.
Kawan, aku percaya, ketika waktu terus berjalan dan semua itu berlalu, engkau akan melihat dengan pandangan yang berbeda. Bisa jadi engkau akan merasa penderitaan mu dulu tidak sehebat yang kau kira. Masih banyak orang lain yang lebih menderita. Mungkin saja engkau akan melihat kemarahan dan kebencian mu tidak beralasan. Sangat boleh, kegagalan mu belum ada apa - apanya. Barangkali kesalahan dan dosa itu akan membuat kita bisa melihat dan menghayati kebenaran.
Kawan, seiring waktu berjalan, pikiran kita akan tumbuh. Perasaan kita berubah. Jika demikian hal nya, maka mengapa kita biarkan diri tenggelam sedangkan ia akan menjadi masa lalu pada akhirnya ?
Tulisan ini diambil dari buku "Pagi ini aku cantik sekali", Azimah Rahayu
Kawan, bagaimana rasanya diliputi benci dan kemarahan ? Seperti mau meledak dada dan kepala? Inginya memuntahkan segala kekesalan sepuas - puas nya.
Kawan, pasti kita pernah gagal. Saat itu rasanya dunia sudah tertutup bagi kita. Tak ada lagi semangat apalagi tekad. Kita pun mandeg, malas untuk bergerak lagi.
Kawan, semua kita pernah berbuat dosa. Sering kita sadar dan menyesal, tapi kita tak sanggup keluar daripadanya.
Kawan, aku percaya, ketika waktu terus berjalan dan semua itu berlalu, engkau akan melihat dengan pandangan yang berbeda. Bisa jadi engkau akan merasa penderitaan mu dulu tidak sehebat yang kau kira. Masih banyak orang lain yang lebih menderita. Mungkin saja engkau akan melihat kemarahan dan kebencian mu tidak beralasan. Sangat boleh, kegagalan mu belum ada apa - apanya. Barangkali kesalahan dan dosa itu akan membuat kita bisa melihat dan menghayati kebenaran.
Kawan, seiring waktu berjalan, pikiran kita akan tumbuh. Perasaan kita berubah. Jika demikian hal nya, maka mengapa kita biarkan diri tenggelam sedangkan ia akan menjadi masa lalu pada akhirnya ?
Tulisan ini diambil dari buku "Pagi ini aku cantik sekali", Azimah Rahayu
Subscribe to:
Posts (Atom)