Daisypath Anniversary tickers

Thursday, March 09, 2006

Nilai Pekerjaan

This writing is inspired by : “Menjadi Murrabiyah Sukses” oleh Cahayadi Takariawan dan Ida Nur Laila


Ada empat orang tukang bangunan yang terlibat dalam proses pembangunan sebuah mesjid. Ketika orang pertama ditanya apa yang sedang dia lakukan, dia menjawab “ saya sedang memecah batu”. Ketika orang kedua ditanya dengan pertanyaan yang sama, dia menjawab “saya sedang membangun mesjid”. Dan jawaban dari orang ketiga untuk pertanyaan yang sama adalah “ saya sedang mencari nafkah untuk anak dan istri saya”. Berbeda dengan orang pertama, kedua, dan ketiga, ketika pertanyaan ini diajukan kepada orang keempat, dia menjawab “ saya sedang membangun peradaban”.

Cerita itu merefleksikan bahwa nilai dari apa yang kita kerjakan sebenarnya sangat bergantung kepada cara berpikir kita terhadap pekerjaan itu. Sekecil apapun pekerjaan yang kita lakukan, jika kita memahami bahwa pekerjaan itu adalah bagian dari sebuah perencanaan besar, atau bahwa pekerjaan itu adalah proses menuju terwujudnya sesuatu yang besar, maka tidak akan ada lagi perasaan kecil dalam hati kita ketika mengerjakan pekerjaan itu.

Seorang tukang sampah yang berjalan dari rumah ke rumah untuk mengangkut sampah misalnya, ketika dia memandang bahwa apa yang dia kerjakan adalah untuk mewujudkan sebuah kota yang bersih misalnya, untuk menciptakan keindahan yang sangat disukai Allah misalnya, atau untuk meringankan beban sekian banyak orang sehingga mereka bisa mengerjakan yang lain tanpa harus memikirkan masalah sampah yang menggunung di rumahnya, maka dia akan selalu mudah untuk memotivasi dirinya sendiri ketika dia merasa lelah dalam mengerjakan pekerjaannya. Dia tidak akan pernah memandang remeh pekerjaannya.

Atau contoh lain adalah seorang murrabi (pendidik) yang duduk dihadapan dua orang objek da’wah nya, berusaha menjelaskan tentang nilai – nilai islam, berusaha memberikan pencerahan intelektual sekaligus spiritual untuk keduanya, tentu tidak akan mudah merasa kecil hati dengan jumlah orang yang ada dihadapannya ketika dia berpikir bahwa dari dua orang ini, masing – masing mereka akan menyampaikan kepada 10 orang lainnya, kemudian yang 20 orang itu masing – masing akan menyampaikan kepada 10 orang lainnya sehingga terkumpul 222 orang yang memahami islam. Dengan frame berpikir yang seperti ini tentu dia tidak akan menggap kecil apa yang sedang dikerjakannya.

Jadi, nilai dari apa yang kita kerjakan sangat tergantung kepada bagaimana cara berpikir kita terhadap pekerjaan itu sendiri. Walaupun harus diakui bahwa terkadang kepenatan kita membuat kita kurang bisa bersikap “think global act local”. Terkadang tetap saja ada perasaan – perasaan kecil hati ketika melihat bahwa apa yang kita kerjakan tidak secara instant dapat langsung dilihat dampak atau keberhasilannya. Dan terkadang tetap saja ada perasaan – perasaan kesepian ketika melihat sedikitnya jumlah orang yang sedang berjalan menuju ke arah yang sama.


~upi, yang sedang berusaha mengumpulkan serpihan – serpihan semangat untuk memotivasi diri agar tetap bergerak~

istimewa

Sesuatu yang istimewa yang hadir dalam kehidupan kita, akan terasa begitu menyenangkan. Tapi ketika sesuatu itu kita temui setiap hari, maka lama kelamaan akan berkurang keistimewaannya. Karena kita telah terbiasa dengan kehadirannya, maka sesuatu itu pun akhirnya menjadi biasa dan tidak lagi istimewa. Tapi jika suatu hari kita tidak merasakan kehadirannya, ketika itu barulah kita akan kembali teringatkan akan keistimewaanya.

Mungkin itu yang terjadi dengan teman – teman kita. Di awal kita sangat merasakan keistimewaan mereka. Mereka yang selalu mendengarkan semua keluh – kesah kita. Mereka yang kehadirannya selalu membawa keceriaan untuk kita. Mereka yang selalu ada sebagai tempat bersandar untuk kita. Dan semua keistimewaan – keistimewaan yang kita rasakan yang membuat kita merasa sangat beruntung memiliki teman seperti mereka. Tapi seiring berjalannya waktu, kita menjadi terbiasa dengan kehadiran mereka. Kita sudah biasa memiliki tempat bercerita. Sudah biasa dengan semua keistimewaan yang ada sehingga yang istimewa tadi memang rasanya menjadi biasa. Cinta yang hadir karena Allah untuk teman kita berubah menjadi interaksi biasa yang terkadang kehilangan makna.

Ketika mereka tidak lagi hadir diantara kita, barulah kita teringatkan akan keistimewaaanya. Ketika masing – masing sudah disibukkan dengan aktivitasnya sehingga berkuranglah intensitas interaksi, barulah ketika itu mulai ada perasaan kehilangan yang menyusup di hati. Ketika sudah berkurang waktu untuk saling mendengar, menguatkan, dan ketika pundak masing - masing sudah dipenuhi dengan beban kehidupan sendiri sehingga tidak ada lagi tempat untuk saling bersandar, barulah ketika itu kita mulai benar – benar merasa kehilangan.

Mungkin itulah alasannya kenapa Rasulullah sangat menganjurkan adanya kejutan – kejutan kecil dalam hubungan itu agar sesuatu yang istimewa tetap terpelihara keistimewaaanya. Kejutan – kejutan kecil seperti saling memberi hadiah, kejutan hati seperti saling mendo’akan, kejutan silaturahmi seperti saling mengunjungi, dan kejutan lain yang akan memelihara keistimewaan cinta diantara dua orang sahabat yang saling mencinta karena Allah.

Allahuma innaka ta’lamu annahadzihilqulub... fawatsiqillahuma rabithataha...
la, cepet sembuh yaa ...

Sunday, March 05, 2006

Sepenggal Kisah

Laki - laki itu hanya duduk termenung di atas sajadah seusai sholat berjama'ah dengan istrinya. Sebuah kesedihan yang mendalam terbaca dengan jelas melalui raut mukanya. Dan dia hanya menggelengkan kepala ketika sang istri menanyakan keadaannya. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar ketika mereka beranjak, merapihkan sajadah dan mukena kemudian berpindah dan duduk di atas tempat tidur.

Tapi tidak berapa lama kemudian keheningan malam itu terpecahkan ketika sang istri tiba - tiba tidak mampu menahan air matanya. Dia menangis. Dia menangis tanpa tahu apa sebabnya. Yang dia tahu adalah dia tidak mampu menahan air mata ketika dalam diam tadi dia berdo'a, berharap agar Allah memberikan hiburan untuk kesedihan yang sedang dialami suaminya, agar Allah memberikan kelapangan untuk kesempitan yang sedang dirasakan suaminya, dan lantunan do'a dalam hati itu lah yang mendesak air mata nya untuk keluar.

Ini kah yang dinamakan ikatan hati ? Ketika kita merasa sedih melihat orang yang disayangi berada dalam kesedihan. Ini kah yang dinamakan ikatan hati ? Ketika kita meneteskan air mata untuk sesuatu yang kita sendiri tidak tahu apa. Hanya ada kesedihan yang mengisi ruang hati yang tidak bisa dijelaskan apa sebabnya. Wallahua'alam bish shawab.

Dan semakin banyak air mata yang keluar dari mata perempuan itu ketika suaminya menjelaskan bahwa kesedihannya yang terdalam adalah karena belum bisa memberikan yang terbaik untuk istrinya ...

Dewasa dan Manja

Orang bilang, menikah itu membuat kita menjadi dewasa. Ada banyak hal yang harus dihadapin, dan ada banyak masalah yang harus diselesaikan yang bobot nya relatif lebih berat, sehingga itu semua akan menempa kita untuk berpikir lebih dewasa. Iyak betulll ... saya setuju sekali.

Tapi di sisi lain, saya juga merasa, menikah membuat saya menjadi lebih manja. Entah ini memang fenomena yang biasa, atau justru sebuah kasus tidak umum yang terjadi pada saya. Karena setelah menikah, saya merasa menjadi lebih mudah menangis. Padahal sebelumnya saya terbilang jarang meneteskan air mata. Saya terbiasa menyelesaikan setiap permasalahan sendiri sehingga saya selalu memotivasi diri untuk tidak cengeng atau manja. Tapi sekarang berbeda kondisinya. Mungkin karena sekarang selalu ada tempat bersandar. Karena saya selalu dilindungi, saya menjadi rapuh. Karena kasih sayang yang berlimpah, saya menjadi manja .. Wallahua'lam. Yang jelas, akhir - akhir ini banyak air mata yang sulit dipahami.

Sunday, February 19, 2006

Bersiap dan Berbuatlah

::Wasiat Hasan Al Banna::

Saudaraku,

Janganlah engkau putus asa, karena putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok. Waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan dan kemaksiatan menghantui mereka. Yang lemah tidak akan lemah sepanjang hidupnya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat.

Putaran waktu akan memperlihatkan kepada kita peristiwa-peristiwa yang mengejutkan dan memberikan peluang kepada kita untuk berbuat. Dunia akan melihat bahwa dakwah kita adalah hidayah, kemenangan, dan kedamaian, yang dapat menyembuhkan umat dari rasa sakit yang tengah dideritanya. Setelah itu tibalah giliran kita untuk memimpin dunia, karena bumi tetap akan berputar dan kejayaan itu akan kembali kepada kita. Hanya Allah-lah harapan kita satu-satunya.

Bersiap dan berbuatlah; jangan menunggu datangnya esok hari, karena bisa jadi engkau tidak bisa berbuat apa-apa di esok hari.

Kita memang harus menunggu putaran waktu itu, tetapi kita tidak boleh berhenti. Kita harus terus berbuat dan terus melangkah, karena kita memang tidak mengenal kata berhenti dalam berjihad.

Allah swt berfirman, " Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari Keridhaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami..." QS. Al Ankabut [29]:69

Hanya Allah-lah Dzat yang Maha Agung, bagi-Nya segala puji.
--------------------------------
Wasiat yang saya terima lewat milist ini benar - benar menjadi penyejuk di kala hati mulai melemah. Tak bisa dipungkiri bahwa ketika kita berusaha menapaki jalan ini, kita pasti menemui saat - saat dimana masalah datang bertubi - tubi. Seolah semua pintu keluar telah terkunci. Saat dimana kita benar - benar merasa sendiri ketika yang lain satu persatu mulai permisi dan pergi. Saat dimana hati mulai tergoda untuk menyerah kalah pada keadaan dan tak mampu menumbuhkan lagi harapan untuk tetap berjuang.
Berjalan melawan arus memang melelahkan. Berteriak lantang untuk mengajak orang berjalan ke depan sementara sebagian besar memilih untuk mundur ke belakan memang tidak gampang. Tapi bukan kah Allah sudah janjikan kemenangan ? Bukan kah Allah sudah janjikan pertolongan bagi orang - orang yang beriman ? Bukan kah Allah akan selalu menyertai orang - orang yang bersabar. Bukankah itu semua sudah cukup menjadi alasan untuk kita tetap bertahan ?
Allahu ya rabbi, semoga engkau selalu pautkan hati ini pada keimanan kepada Mu, keta'atan kepada Mu. Semoga engkau selalu pautkan hati ini pada da'wah di jalan mu.
this writting is dedicated to : myself. ayo upi semangat !!!!

Monday, January 23, 2006

harapan yang hilang

Setiap hal yang kita putuskan untuk jalani, pasti ada pengorbanan yang harus dilakukan untuk menjalaninya. Begitu juga dengan keputusan untuk menikah, pasti ada yang dikorbankan. Dan sebuah pertanyaan dari seorang teman membuat saya termenung cukup lama. "Apakah teh upi termasuk orang yang mengorbankan harapan serta keinginan atau peluang setelah menikah ?"
Sesuatu yang kita lakukan dapat dikategorikan sebagai pengorbanan atau tidak menurut saya tergantung dari kacamata mana kita melihatnya. Seorang ibu yang menjual anaknya untuk mengeluarkan dirinya dari kesulitan ekonomi, apakah itu sebuah pengorbanan ? Bagaimana jika dibandingkan dengan kisah seorang ibu yang membiarkan anaknya dimasukan ke dalam tungku berisi air mendidih demi untuk mempertahankan aqidah nya, apakah itu juga sebuah pengorbanan ? Menurut saya tergantung kepada bagaimana pemahaman kita memandang permasalahan itu.
Menikah memang bukan perkara mudah, ada tugas baru yang kini di emban, ada tanggung jawab baru yang kini harus dipikirkan. Ada hal - hal yang memang tidak lagi bisa dengan bebas kita lakukan setelah menikah. Sekarang mungkin saya tidak lagi bisa dengan bebas membiarkan diri saya pulang lebih malam dari biasanya karena tugas2 di kantor yang harus di selesaikan. Karena izin suami sekarang menjadi prioritas yang harus didahulukan. Tidak lagi bisa dengan bebas berpikir untuk pindah ke kota manapun selama di sana memang ada peluang dimana saya bisa bekerja, mengerjakan sesuatu yang saya senangi. Karena sekarang saya memilih untuk tinggal di kota manapun dimana di situ tinggal suami saya. Dan sekarang saya pun harus berpikir puluhan kali untuk melanjutkan rencana belajar ke luar negri.
Tapi apakah dengan melakukan itu semua berarti saya sudah mengorbankan harapan, keinginan, serta peluang - peluang yang ada di depan mata ? Rasanya tidak sama sekali. Semua itu adalah pilihan - pilihan yang saya ambil sendiri. Suami memang tidak pernah melarang atau membatasi saya untuk mengembangkan potensi diri saya sendiri baik dengan bekerja di dunia profesional maupun dengan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi pilihan - pilihan itu saya yang tentukan, dengan dukungan penuh dari beliau tentunya. Saya yang memilih untuk tidak menempatkan profesi di atas keluarga. Saya juga yang memilih untuk tidak pergi ke manapun baik untuk sekolah maupun untuk bekerja kecuali suami saya ikut mendampingi saya.
Dan itu semua bukan pengorbanan. Mungkin dilihat dari satu sisi memang ada hal - hal yang harus dilepaskan. Tapi bukan berarti saya sepenuhnya melepaskan atau mengorbankan harapan, keinginan, serta peluang. Semua pilihan - pilihan itu saya ambil karena saya punya harapan - harapan baru setelah menikah. Saya punya keinginan - keinginan lain setelah menikah. Dan saya juga mulai mencari peluang - peluang baru setelah menikah. Dan untuk mewujudkan harapan dan keinginan yang baru serta untuk meraih peluang - peluang yang baru, saya harus melepaskan yang lama. Melepaskan genggamana saya kepada rumput - rumput yang ada di tanah karena tangan saya yang lain sedang meraih ranting pohon yang ada di atas.
Saya masih punya harapan untuk berkiprah dalam dunia profesional, tapi harapan saya sekarang adalah berkiprah di dunia profesional dengan dukungan 5 orang anak yang hafidz dan hafidzah. Saya masih punya keinginan untuk melanjutkan sekolah saya. Tapi sekarang keinginan saya adalah seorang suami yang dengan setia menemani saya bergadang semalaman untuk menyelesaikan tesis saya, keinginan menjadi mahasiswa pascasarjana sekaligus istri sholehah.
Intinya adalah memang ada hal - hal yang harus kita lepaskan setelah kita menikah. Tapi semua itu kita lepaskan untuk mendapatkan sesuatu yang nilainya jauh lebih besar. Ada harapan, keinginan, serta peluang yang harus dilepaskan. Tapi semua itu dilepaskan untuk mendapatkan harapan, keinginan, dan peluang yang lebih besar. Bukan berarti harapan, keinginan serta peluang itu mati dan hilang begitu saja.
Wallahu'alam bish shawab ...

Tuesday, January 03, 2006

ibu

Ibu, sebuah tema yang sebenarnya belum pernah mewarnai tulisan – tulisan saya selama ini. Saya bukan tipe anak yang bisa dengan mudah menceritakan segala macam tentang ibunya. Saya bukan tipe anak perempuan yang biasa bercerita, tidur dipangkuan ibunya atau sekedar bermanja dengan nya. Ada banyak hal yang melatarbelakangi ketidakdekatan saya dengan ibu saya. Yang jelas, karena hal ini sudah berlangsung sekian lama, saya tidak lagi merasa bahwa ini sesuatu yang ganjal. Karena saya sudah terbiasa tidak dekat dengan ibu.

Kondisi nya ternyata menjadi berbeda sekali setelah saya menikah. Karena sekarang telah hadir seseorang yang dengan seksama memperhatikan pola hubungan saya dengan ibu saya. Seseorang yang merasa takjub melihat bagaimana seorang anak perempuan tidak dekat dengan ibunya. Walaupun saya dan ibu tidak tinggal satu kota, tapi ibu saya cukup sering pulang ke bandung, dan setiap kali beliau pulang ke bandung, beliau tinggal cukup lama di bandung. Jadi perbedaan jarak yang ada antara saya dan ibu saya sebenarnya tidak bisa dijadikan alasan utama ketidakdekatan kami. Alhamdulillah sekarang ada yang mengingatkan. Setiap kali saya lalai dalam berbakti kepada ibu, ada yang mengingatkan. Dan seseorang itu pun sekarang justru menjadi jembatan penghubung antara saya dengan ibu saya. Beliau yang sedikit demi sedikit merubah paadigma saya tentang ibu saya, dan beliau pula yang sedikit demi sedikit merekatkan kembali kerenggangan antara ibu dengan anak perempuannya. Segala puji bagi Allah atas karunia ini.

Selain itu, menikah ternyata membuat saya lebih banyak dan lebih serius lagi berpikir tentang peran dan pengorbanan seorang ibu. Mungkin karena sekarang saya dibayang – bayangi kemungkinan bahwa bisa jadi dalam waktu dekat Allah pun membebankan tugas sebagai seorang ibu kepada saya. Saya jadi lebih memahami bahwa memang tidak semua ibu terbiasa membelai lembut kepala anaknya, tidak semua ibu terbiasa mengajak anaknya berbicara dari hati ke hati. Tidak semua ibu terbiasa mengucapkan kata – kata sayang dan mesra untuk anaknya. Tidak semua ibu terbiasa mengekspresikan rasa sayang dan kekhwatirannya. Tapi dibalik semua itu, seorang ibu secara fitrrah pastilah menyimpan sejuta cinta untuk anaknya.

Alasan apapun yang mendasari ketidakdekatan seorang anak dengan ibunya, tetap tidak bisa menghapuskan semua pengorbanan yang telah dilakukan ibu untuk anaknya. Tidak bisa menafikan bahwa surga seorang anak tetap terletak dibawah telapak kaki ibunya. Astaghfirullah … semoga Allah membukakan pintu ampunan untuk kelalaian saya terhadap ibu selama ini. Dan semoga Allah memberkahi ibu dan juga ayah saya, menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi saya.

Specially for starnoegh : you are the star of my life