Daisypath Anniversary tickers

Sunday, June 18, 2006

Mengapa Saya Bahagia ...

Tulisan di bawah ini dikutip dari tulisan yang ditulis oleh Ibu Della Y. A. T. Saya yakin beliau tidak keberatan jika saya publish disini. Semoga dapat diambil hikmah nya, terutama bagi teman - teman yang mungkin sedang mengalami dilema yang sama. Tulisan ini juga merupakan suatu bentuk penjabaran mengapa saya mengganti "mimpi - mimpi" saya sebelum menikah dengan "mimpi - mimpi baru " setelah menikah .

----------------------------------------------------------------------------------------------

Catatan Hati : Mengapa Saya Bahagia


Aku berusaha tahu apa yang aku mau dan aku mau kamu juga tahu sayangku.
Saya lanjutkan catatan ini dengan menekankan perlunya setiap diri, baik calon istri dan calon suami untuk senantiasa berusaha mengetahui apa-apa yang menjadi recana hidupnya di kemudian hari. Ikhtiar untuk mengenali diri kita, kelemahan dan kekuatan, serta rencana-rencana ke depan yang telah kita susun sebelum bertemu, merupakan titik awal komunikasi calon suami istri yang sangat penting. Disinilah kita belajar hal-hal yang dianggap penting oleh calon pasangan kita masing-masing. Mengingat bahwa suami akan menjadi kepala rumah tangga, dan secara Islam tanggung jawab seorang perempuan berpindah dari tangan ayahnya ke suaminya, kemampuan untuk mendefinisikan, membagi, dan menyelaraskan rencana kehidupan ke depan menjadi sagat penting bagi perempuan. Sayangnya, hal ini pulalah yang seringkali luput dari perhatian ketika akan atau telah menikah. Ada yang berpikiran, sebagai istri ketaatan kepada suami (setelah ketaatan kepada Allah) adalah yang utama, maka cukuplah bagi saya berkhidmat atas keputusan suami. Ada pula yang berfikir bahwa insya Allah, (calon) suami saya orang sholeh, tentu dia tidak akan berbuat dzalim terhadap istrinya. Ada juga yang tidak ingin memberatkan dan menyusahkan suaminya…
Itu semua betul saudariku, tapi itu semua juga tidak menghilangkan pentingnya kita mengkomunikasikan rencana kita atas diri kita selama ini. Rencana2 yang kita bagi bukan untuk menyusahkan suami, tapi justru untuk memenuhi haknya agar dia menjadi pemimpin yang adil. Ayah dan ibu kita, mengenal kita sejak kita lahir, tentu mereka tahu apa yang membuat kita bahagia dan apa yang membuat kita sedih, apa yang membuat kita bersemangat dan apa yang membuat kita lesu dan kehilangan gairah. (Calon) suami kita pun perlu dan berhak tahu. Mengapa? karena dia berhak dan perlu mengenal kita seutuhnya, apa adanya, yang dengan pengetahuan itu dia menjadi pengambil keputusan yang adil atas urusan-urusan kita. Tentu, rencana-rencana tadi bukan untuk kita paksakan setelah kita berumah tangga, tapi untuk kita selaraskan dengan rencana-rencana pasangan kita.
Wahai suami, berusahalah untuk tahu rencana-rencana hidup istrimu, terutama sebelum dia bertemu dan menikah denganmu. Sekian tahun umur istrimu dia habiskan sendiri dengan segala rencana, perjuangan, dan aktualisasi diri. Itulah yang menjadikan dirinya sebagaimana kamu melihatnya ketika akan menikah. Jangan sampai kelalaian para suami untuk mencari tahu hal-hal yang menjadi semangat dan kebahagian istri sebelum menikah, menjadikan masalah dalam rumah tangga di kemudian hari. Banyak masalah perempuan setelah menikah terkait dengan isu mendasar ini. Dimana tanpa disadari seorang istri atau seorang ibu kehilangan gairah dan semangat hidupnya dari hari ke hari.
Inilah pilihanku, insya Allah ini yang terbaik buat keluarga kami saat ini
Setelah kita awali komunikasi dalam rumah tangga dengan berbagi harapan dan rencana hidup kita, saatnya bagi kita untuk menyelaraskan itu semua dan menyusun rencana bersama. Kehidupan rumah tangga tentu sesuatu yang sangat baru bagi kita berdua. Sesuatu yang baru ini tentu menuntut penyesuaian atas segala harapan, rencana, dan kebiasaan kita selama ini.
Satu hal penting yang seringkali terlupa adalah hendaknya setiap diri (baik istri maupun suami) bisa mengatakan: “inilah pilihan saya, insya Allah inilah yang terbaik untuk keluarga kami saat ini”. Kemampuan untuk mengatakan kalimat ini sangat penting, ini menunjukkan bahwa apa yang kita jalani adalah pilihan kita atas ikhtiar manusiawi kita membuat rencana kehidupan rumah tangga. Disini pentingnya kita sama-sama mnegenali diri, sehingga pilihan ini bisa mengakomodasi rencana-rencan diri. Jadi hidup berumah tangga bukan hanya didasarkan pada “kepasrahan” atas apa yang ada di depan mata, tapi lebih kepada “keridhoan” atas apa yang akan kita jalani.
Dengan kemampuan ini, perempuan yang semula aktif di luar rumah tidak akan merasa sedih jika keaktifannya hanya di rumah saja dan memfokuskan pada mengurus suami, anak, dan keluarga jika memang itu yang paling baik untuk keluarga itu pada saat itu. Atau jika pilihan kita berbeda, misalnya kita memilih untuk tetap beraktivitas (entah itu sekolah, dakwah, atau bekerja), kita bersabar akan kondisi yang kita hadapi…
Intinya adalah, dengan menyadari bahwa keputusan ini adalah pilihan yang kita ambil, insya Allah kita akan percaya diri menjalani pilihan hidup kita saat itu. Pilihan kita mungkin sama dan juga mungkin tidak sama dengan orang lain, tapi insya Allah pilihan itu yang lebih baik bagi kita saat itu. Mengapa saat itu? Ya, karena pilihan-pilihan kita bisa berubah bergantung kondisi rumah tangga. Punya anak kecil yang sedang menyusui, tentu berbeda dengan pilihan aktivitas ketika anak sudah mulai besar, misalnya. Satu hal yang tidak pernah berubah adalah visi dan rencana jangka panjang keluarga ini, sesuatu yang membuat kita berdua sama-sama bersemangat mengayuh bahteranya.

0 comments: